BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teks Hadits
A. Hadis I
عن ا بي سعيد الخد رى رضي الله عنه قال:
سمعت رسول الله ص م يقول: من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه
فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الا يما ن (رواه مسلم)
Dari Abu Sa’id
Al Khudri RA berkata, aku telah mendengar Rasulallah SAW bersabda: “Barang
siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan
(kekuatan) tangannya. Jika dengan kekuatan tangan tidak mampu, maka hendaklah
dengan menegurnya.. jika masih tidak mampu juga maka hendaklah menegur dengan
hatinya. Dan itulah tingkatan iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim)[1]
B. Hadits II
عن
حذيفة رضى الله عنه عن النبى ص م قال: والذى نفسى بيده لتامرن بالمعروف ولتنهون عن
المنكر اوليو شكن الله يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم (رواه
ترمذى)
Dari Huzaifah dari Rasulallah SAW
bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seharusnya kalian
menyuruh untuk berbuat baik
dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Jika tidak sungguh Allah akan
menurunkan siksa pada kalian. Kemudian kamu berdoa pada-Nya, tapi Dia tidak
mengabulkan do’amu.” (HR. Turmudzi)
C.
Hadits III dan IV
وعن ابى مسعود عقبة بن عمر الانصاري
البدري رضى الله عنه قال: قال رسول الله ص م: من دل على خير فله مثل اجر فاعله
(رواه مسلم)
Dari
Abu mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri RA berkata, bahwa Rasulallah SAW
bersabda: “Barang siapa mengajak kepada kebaikan maka ia mendapat pahala
seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu.” (HR. Muslim)[2]
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان النبي ص م:
من دعا الى هدى كان له من الاجر اجور من تبعه لا ينقص ذلم من اجورهم شيئا, ومن دعا
الى ضلالة كان عليهم من الاثم مثل اثام من تبعه لا ينقص ذلك من اثامهم شيئا (رواه
مسلم)
Dari
Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa yang
mengajak pada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala yang dilakukan orang
yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang sedikitpun. Dan barang siapa yang
mengajak pada dosa, maka baginya dosa yang sama seperti yang didapat oleh orang
yang melakukan apa yang diajaknya, tidak berkurang sedikitpun. “ (HR.
Muslim)
2.2
Penjelasan Hadist
A. Hadist I
Dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW
menegaskan kepada kita semua bahwa berdakwah itu memang sangat penting. Tidak
hanya dengan satu cara tapi bermacam-macam. Yaitu seperti menegur dengan
tangan, ucapan dan hati. Sementara itu dikatakan pula bahwa berdakwah dengan
hati adalah jenis dari orang yang beriman lemah. Dari kelanjutan tersebut
lagi-lagi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tindakan mendiamkan atau memberi
tindakan pada kemungkaran dengan mendo’akan dalam hati termasuk kurang baik.
Kita harus bergerak, kita tidak boleh mendiamkan hal yang tidak baik begitu
saja, kita harus berdakwah.
B. Hadist II
Dari
hadits ini kita bisa kembali mengambil pelajaran bahwa jika kita menemukan
kemungkaran kemudian kita tahu dan tidak meemperingatinya maka kita akan
mendapatkan balasan. Seperti yang dikatakan dalam hadits diatas memang tidak
jelas siksa apa yang akan kita dapatkan, tetapi adakah siksa Allah yang mudah?
Sedangkan dikatakan bahwa siksa Allah yang paling ringan adalah panas yang
ditaruh di telapak kaki dan panasnya bisa membuat otak mendidih. Naudzubillah…
Lagi,
jika kita berdoa Allah tidak akan mengabulkan. Jika demikian kepada siapakah
kita akan meminta pertolongan? Kepada siapa kita akan meminta selain Dia?
Begitulah
yang dijelaskan nabi Muhammad SAW tentang balasan bagi manusia yang lalai
terhadap kewajiban berdakwah. Ternyata Allah memang sangat memperhatikan
pentingnya dakwah ini. sehingga, kita nantinya tidak saling membiarkan saudara
kita terjerumus ke dalam jurang tanpa usaha menolongnya.
C. Hadist III dan IV
Berbeda dengan hadits sebelumnya, dari kedua hadits
diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang kita dakwahkan atau
ajakkan kepada orang lain, seperti apa yang didapat orang itu jika melakukannya
seperti itulah yang kita dapatkan. Misalnya kita
mengajak berpuasa kemudian orang itu berpuasa maka seperti apa pahala yang
didapat orang itu seperti itu pulalah yang kita dapatkan. Subahanallah…betapa
pemurahnya Allah membuat amal terasa begitu mudah.
Tapi,
begitu pula dengan ajakan buruk yang kita sampaikan. Apabila orang lain
melakukannya atas anjuran kita maka kita akan mendapatkan apa yang kita
anjurkan itu persis seperti dosa yang didapat sang pelaku.
Padahal
jika kita fikirkan lagi, betapa pemurahnya Allah. jika sebuah kebaikan kita
niatkan meskipun belum kita laksanakan niatnya telah dicatat sebagai pahala.
Tapi niat buruk, kalau kita belum melakukan keburukan yang kita niatkan
tersebut kita tidak akan mendapat catatan buruk. Begitu menurut suatu risalah.
2.3
Manusia Sebagai Komunikan
Komunikasi
adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media
terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau
umpan balik.
Pada kajian
komunikan ini ada dua sudut pandangan untuk menjelaskan peran manusia sebagai
komunikator yakni dari sudut pandang komunikasi secara umum dan sudut pandang
dalam islam.[3]
Dari
sudut pandang komunikasi pada umumnya manusia sebagai komunikan ialah manusia
sebagai penerima pesan yang baik. Dalam proses komunikasi komunikan merupakan sasaran
komunikasi dan tujuan manusia berkomunikasi adalah membangun/menciptakan
pemahamam atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti
harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan
sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan. Dalam kajian ini secara garis
besar indtinya adalah manusia sebagai komunikan yang dapat menangkap pesan
dengan baik yang di sampaikan oleh manusia lain(komunikator) karna itu manusia
adalah komunikator tebaik daripada mahluk yang lain makadari itu objek kajian
komunikasi adalah manusia.
Dari
sudut pandang islam manusia sebagai komunikan dan sasaran komunikasi dan yang
menjadi komunikator adalah Allah yang menyampaikan pesan berupa alquran.
Dalam
sudut pandang ini proses komunikasi dari seorang komunikator yag menyampaikan
pesan melalui media atau secara langsung kepada komunikan dan menimbulkan sebua
efek.
2.4 Hubungan Hadits dengan
komunikasi pada umumnya
1.
Pergeseran
Nilai-nilai dasar Komunikan, Hadits 1
Pergeseran nilai-nilai komunikan
terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang
disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan
komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan
yang buruk/keburukan.
Hadits 1
Pada
suatu kisah ada seorang seorang mendengarkan suatu ucapan atau ceramah dari
para mubaligh saat dia mendengarkan ceramah atau masih dalam sebuah forum
majelis taklim, dia begitu semangat dan sangat antusias dalam mendengarkan
ceramah tersebut. Ketika selesai acara pengajian dia berbuat tidak sesuai dengan apa yang dia
dengar di majelis taklim tersebut. Sebenarnya didalam hatinya itu paham antara
yang baik dan yang buruk, tetapi karena adanya suatu pergeseran nilai terhadap
keimanannya, maka dia bersifat munafik, di depan orang-orang yang dia hormati
seakan-akan dia berbuat kebaikan dengan mendatangi sebuah majelis taklim,
sedangkan disisi lain dia tetap berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama,
seperti mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, mencuri ataupun perbuatan
penyakit hati seperti, mengunjing, dengki, iri ataupun mencela perbuatan orang
lain.
Nah, apabila kita bertemu dengan orang semacam ini,
hendaknya kita sebagai seorang muslim yang baik harus memberikan teguran berupa
perbuatan, agar dia tidak mengulangi perbuatannya, dan apabila kita telah
menegurnya namun dia tetap tak bisa mendengarkan perkataan kita dan kita tidak
mampu menegurnya lagi maka hendaknya kita menegurnya dalam hati dan berdoa
kepada Allah agar dia segera insaf dan segera bertaubat dan kembali ke jalan
yang benar.
2.
Sikap
dan Reaksi Komunikan.
Sikap dan reaksi komunikator
harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus
mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari
komunikator.
Hadits 2
Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa kita sebagai umat
manusia haruslah berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, atau berbuat kebaikan dan
menjahui larangannya. Nah apabila menurut diri kia sendiri kita sudah bisa
menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan baik, InsyaAllah kita bisa
terhindar dari segala perbuatan dosa, dan apabila kita sudah merasa mampu untuk
mencegah orang lain berbuat mungkar atau dengan cara mengingatkannya, maka hal
tersebut harus segera diamalkan agar semua orang di sekeliling kita semuanya
bisa berbuat baik semuanya.
3.
Metode
dan Teknik Perbaikan Komunikan.
Metode dan teknik perbaikan
komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau
pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus
bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
Hadits 3
dan 4
Dalam
hadits-hadits diatas disebutkan dijelaskan bahwa, seruan untuk mengajak
kebenaran itu sangatlah dianjurkan oleh rasulullah, dengan kita mengajak
seseorang berbuat kebaikan itu saja sudah termasuk berbuat baik. Dan perbuatan
baik sekecil apapun kata Allah akan dibalas berkali-kali lipat, tergantung apa
kita bisa iklas melakukan perbuatan kebaikan tersebut, namun ikhlas itu relatif
tergantung orang yang menyikapi hal tersebut.
Namun
jika kita mnyeru seseorang dalam hal kebaikan seperti misal kita memperingatkan
seseorang untuk shalat, maka dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa pahala yang kita dpatkan dari hal sederhana tersebut adalah sama
dengan kita melakukan shalat tersebut tanpa berkurang sedikitpun. Dan alangkah
indahnya bila hidup ini kita bisa saling mengingatkan dan saling mengajak dalam
hal kebaikan, maka didunia ini pasti nyaman dan tentram.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
- Pergeseran nilai-nilai komunikan terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan yang buruk/keburukan.
- Sikap dan reaksi komunikator harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari komunikator.
- Metode dan teknik perbaikan komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
- Juga mengganti sesuatu yang tidak benar menjadi benar dan meluruskan kesalahan dalam pendapat ataupun pesan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Mahrus. H, Terjemah Irsyadul Ibad ( Surabaya : MUTIARA ILMU. 1995 M )
Safinaturrohmah.wordpress.com/materi-perkuliahan/tafsir-tematik-komunikasi/manusia-sebagai-komunikan/
Hasan. A, terjemah
bulughul maram, diponegoro, bandung, 2002
Categories :
Unknown