Pages

Selasa, 28 April 2015

MANUSIA SEBAGAI KOMUNIKAN



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teks Hadits
A. Hadis I       
عن ا بي سعيد الخد رى رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص م يقول: من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف  الا يما ن (رواه مسلم)
Dari Abu Sa’id Al Khudri RA berkata, aku telah mendengar Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan (kekuatan) tangannya. Jika dengan kekuatan tangan tidak mampu, maka hendaklah dengan menegurnya.. jika masih tidak mampu juga maka hendaklah menegur dengan hatinya. Dan itulah tingkatan iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim)[1]
B. Hadits II
 عن حذيفة رضى الله عنه عن النبى ص م قال: والذى نفسى بيده لتامرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر اوليو شكن الله يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم (رواه ترمذى)
Dari Huzaifah dari Rasulallah SAW bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seharusnya kalian menyuruh untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Jika tidak sungguh Allah akan menurunkan siksa pada kalian. Kemudian kamu berdoa pada-Nya, tapi Dia tidak mengabulkan do’amu.” (HR. Turmudzi)
C. Hadits III dan IV
وعن ابى مسعود عقبة بن عمر الانصاري البدري رضى الله عنه قال: قال رسول الله ص م: من دل على خير فله مثل اجر فاعله (رواه مسلم)
Dari Abu mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri RA berkata, bahwa Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa mengajak kepada kebaikan maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu.” (HR. Muslim)[2]
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان النبي ص م: من دعا الى هدى كان له من الاجر اجور من تبعه لا ينقص ذلم من اجورهم شيئا, ومن دعا الى ضلالة كان عليهم من الاثم مثل اثام من تبعه لا ينقص ذلك من اثامهم شيئا (رواه مسلم)                 
Dari Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengajak pada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala yang dilakukan orang yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang sedikitpun. Dan barang siapa yang mengajak pada dosa, maka baginya dosa yang sama seperti yang didapat oleh orang yang melakukan apa yang diajaknya, tidak berkurang sedikitpun. “ (HR. Muslim)

2.2 Penjelasan Hadist
A. Hadist I
            Dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW menegaskan kepada kita semua bahwa berdakwah itu memang sangat penting. Tidak hanya dengan satu cara tapi bermacam-macam. Yaitu seperti menegur dengan tangan, ucapan dan hati. Sementara itu dikatakan pula bahwa berdakwah dengan hati adalah jenis dari orang yang beriman lemah. Dari kelanjutan tersebut lagi-lagi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tindakan mendiamkan atau memberi tindakan pada kemungkaran dengan mendo’akan dalam hati termasuk kurang baik. Kita harus bergerak, kita tidak boleh mendiamkan hal yang tidak baik begitu saja, kita harus berdakwah.
B. Hadist II
Dari hadits ini kita bisa kembali mengambil pelajaran bahwa jika kita menemukan kemungkaran kemudian kita tahu dan tidak meemperingatinya maka kita akan mendapatkan balasan. Seperti yang dikatakan dalam hadits diatas memang tidak jelas siksa apa yang akan kita dapatkan, tetapi adakah siksa Allah yang mudah? Sedangkan dikatakan bahwa siksa Allah yang paling ringan adalah panas yang ditaruh di telapak kaki dan panasnya bisa membuat otak mendidih. Naudzubillah…
Lagi, jika kita berdoa Allah tidak akan mengabulkan. Jika demikian kepada siapakah kita akan meminta pertolongan? Kepada siapa kita akan meminta selain Dia?
Begitulah yang dijelaskan nabi Muhammad SAW tentang balasan bagi manusia yang lalai terhadap kewajiban berdakwah. Ternyata Allah memang sangat memperhatikan pentingnya dakwah ini. sehingga, kita nantinya tidak saling membiarkan saudara kita terjerumus ke dalam jurang tanpa usaha menolongnya.
C. Hadist III dan IV
Berbeda dengan hadits sebelumnya, dari kedua hadits diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang kita dakwahkan atau ajakkan kepada orang lain, seperti apa yang didapat orang itu jika melakukannya seperti itulah yang kita dapatkan. Misalnya kita mengajak berpuasa kemudian orang itu berpuasa maka seperti apa pahala yang didapat orang itu seperti itu pulalah yang kita dapatkan. Subahanallah…betapa pemurahnya Allah membuat amal terasa begitu mudah.
Tapi, begitu pula dengan ajakan buruk yang kita sampaikan. Apabila orang lain melakukannya atas anjuran kita maka kita akan mendapatkan apa yang kita anjurkan itu persis seperti dosa yang didapat sang pelaku.
Padahal jika kita fikirkan lagi, betapa pemurahnya Allah. jika sebuah kebaikan kita niatkan meskipun belum kita laksanakan niatnya telah dicatat sebagai pahala. Tapi niat buruk, kalau kita belum melakukan keburukan yang kita niatkan tersebut kita tidak akan mendapat catatan buruk. Begitu menurut suatu risalah.
2.3    Manusia Sebagai Komunikan
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik.
Pada kajian komunikan ini ada dua sudut pandangan untuk menjelaskan peran manusia sebagai komunikator yakni dari sudut pandang komunikasi secara umum dan sudut pandang dalam islam.[3]
Dari sudut pandang komunikasi pada umumnya manusia sebagai komunikan ialah manusia sebagai penerima pesan yang baik. Dalam proses komunikasi komunikan merupakan sasaran komunikasi dan tujuan manusia berkomunikasi adalah membangun/menciptakan pemahamam atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan. Dalam kajian ini secara garis besar indtinya adalah manusia sebagai komunikan yang dapat menangkap pesan dengan baik yang di sampaikan oleh manusia lain(komunikator) karna itu manusia adalah komunikator tebaik daripada mahluk yang lain makadari itu objek kajian komunikasi adalah manusia.
Dari sudut pandang islam manusia sebagai komunikan dan sasaran komunikasi dan yang menjadi komunikator adalah Allah yang menyampaikan pesan berupa alquran.
Dalam sudut pandang ini proses komunikasi dari seorang komunikator yag menyampaikan pesan melalui media atau secara langsung kepada komunikan dan menimbulkan sebua efek.
2.4 Hubungan Hadits dengan komunikasi pada umumnya
1.    Pergeseran Nilai-nilai dasar Komunikan, Hadits 1
Pergeseran nilai-nilai komunikan terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan yang buruk/keburukan.
Hadits 1
Pada suatu kisah ada seorang seorang mendengarkan suatu ucapan atau ceramah dari para mubaligh saat dia mendengarkan ceramah atau masih dalam sebuah forum majelis taklim, dia begitu semangat dan sangat antusias dalam mendengarkan ceramah tersebut. Ketika selesai acara pengajian dia berbuat tidak sesuai dengan apa yang dia dengar di majelis taklim tersebut. Sebenarnya didalam hatinya itu paham antara yang baik dan yang buruk, tetapi karena adanya suatu pergeseran nilai terhadap keimanannya, maka dia bersifat munafik, di depan orang-orang yang dia hormati seakan-akan dia berbuat kebaikan dengan mendatangi sebuah majelis taklim, sedangkan disisi lain dia tetap berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, mencuri ataupun perbuatan penyakit hati seperti, mengunjing, dengki, iri ataupun mencela perbuatan orang lain.
Nah, apabila kita bertemu dengan orang semacam ini, hendaknya kita sebagai seorang muslim yang baik harus memberikan teguran berupa perbuatan, agar dia tidak mengulangi perbuatannya, dan apabila kita telah menegurnya namun dia tetap tak bisa mendengarkan perkataan kita dan kita tidak mampu menegurnya lagi maka hendaknya kita menegurnya dalam hati dan berdoa kepada Allah agar dia segera insaf dan segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
2.    Sikap dan Reaksi Komunikan.
Sikap dan reaksi komunikator harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari komunikator.

Hadits 2
Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa kita sebagai umat manusia haruslah berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, atau berbuat kebaikan dan menjahui larangannya. Nah apabila menurut diri kia sendiri kita sudah bisa menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan baik, InsyaAllah kita bisa terhindar dari segala perbuatan dosa, dan apabila kita sudah merasa mampu untuk mencegah orang lain berbuat mungkar atau dengan cara mengingatkannya, maka hal tersebut harus segera diamalkan agar semua orang di sekeliling kita semuanya bisa berbuat baik semuanya.
3.    Metode dan Teknik Perbaikan Komunikan.
Metode dan teknik perbaikan komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
Hadits 3 dan 4
Dalam hadits-hadits diatas disebutkan dijelaskan bahwa, seruan untuk mengajak kebenaran itu sangatlah dianjurkan oleh rasulullah, dengan kita mengajak seseorang berbuat kebaikan itu saja sudah termasuk berbuat baik. Dan perbuatan baik sekecil apapun kata Allah akan dibalas berkali-kali lipat, tergantung apa kita bisa iklas melakukan perbuatan kebaikan tersebut, namun ikhlas itu relatif tergantung orang yang menyikapi hal tersebut.
Namun jika kita mnyeru seseorang dalam hal kebaikan seperti misal kita memperingatkan seseorang untuk shalat, maka dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa pahala yang kita dpatkan dari hal sederhana tersebut adalah sama dengan kita melakukan shalat tersebut tanpa berkurang sedikitpun. Dan alangkah indahnya bila hidup ini kita bisa saling mengingatkan dan saling mengajak dalam hal kebaikan, maka didunia ini pasti nyaman dan tentram.
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
  1. Pergeseran nilai-nilai komunikan terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan yang buruk/keburukan.
  2. Sikap dan reaksi komunikator harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari komunikator.
  3. Metode dan teknik perbaikan komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
  1. Juga mengganti sesuatu yang tidak benar menjadi benar dan meluruskan kesalahan dalam pendapat ataupun pesan.









DAFTAR PUSTAKA
Ali Mahrus. H, Terjemah Irsyadul Ibad ( Surabaya : MUTIARA ILMU. 1995 M )
Safinaturrohmah.wordpress.com/materi-perkuliahan/tafsir-tematik-komunikasi/manusia-sebagai-komunikan/
Hasan. A, terjemah bulughul maram, diponegoro, bandung, 2002


[1] Ali Mahrus. H, Terjemah Irsyadul Ibad, Surabaya : Mutiara Ilmu. 1995, Hal. 278
[2] Hasan. A, terjemah bulughul maram, diponegoro, bandung, 2002, Hal. 307
[3] Safinaturrohmah.wordpress.com/materi-perkuliahan/tafsir-tematik-komunikasi/manusia-sebagai-komunikan/

HUKUMAN KEDUA BERBUAH FOTO BARENG



HUKUMAN KEDUA BERBUAH FOTO BARENG

Siang ini sekitar pukul 11.00 langit yang mulanya cerah tiba-tiba menjadi gelap disertai angin yang cukup kencang. Tak lama hujanpun turun dengan lebat melanda Wonocolo dan sekitarnya. Hujan yang lebat itu menjadi musibah buat saya. Karena siang ini sekitar pukul 12.20 saya ada mata kuliah Teknik Khitobah II yang mana Dosennya beda dari yang lain. Sebut saja namanya pak Prof Ali Aziz. Siapa yang tidak kenal beliau, se Fakultas Dakwah dan Komunikasi pasti mengenal sosok Prof Ali Aziz. Dosen kelahiran Lamongan itu ketika mengajar mata kuliah Teknik Khitobah II sangat disiplin dan bikin puyeng dengan tugas-tugas yang beliau berikan kepada mahasiswa. Tetapi dengan tugas-tugas yang beliau berikan, mahasiswa akan merasakan manfaatnya yang begitu besar dan bakat-bakat yang terpendam akan muncul dengan  paksaan yang beliau berikan.
Kembali ke cerita diawal, hujan tak kunjung redah sampai sekitar jam 12.05 ketika saya melihat jam di HP. Saya mengambil wudhu di kamar mandi sebelah kanan kamar pondok pesantren Darul Arqom dengan memakai kaos berwarna hitam kombinasi hijau daun dan memakai celana kain hitam. Kira-kira 7 menit saya didalam kamar mandi itu dan langsung kembali ke kamar untuk melaksanakan Sholat Dhuhur. Iringan Dzikir terucap dari mulut saya dengan suara yang lembut dan dengan hati yang khusu’ setelah menunaikan Sholat Dhuhur. Hujan sudah redah tapi langit masih gelap dan mendung, sesekali hujan lebat kembali datang yang menyebabkan saya malas untuk berangkat kuliah padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.15.
“Ayo tangi gak sholat ta, wes jam 12.15 lho. Wayae Prof Ali engko kenek hukum maneng atek kari”. Ungkap saya ketika membangunkan kedua teman yaitu Hisyam dan Faizin yang lagi tidur mulas dikamar. ”engko sek jek udan lho, libur pak prof gak masuk” jawab mas Faizin dengan nada bergumam dan masih setengah sadar itu. Mendengar jawaban teman seperti itu sayapun nyantai dengan asyik bermain HP dan tidak membangunkannya lagi.
Firasat saya mulai tidak enak, karena hujan sudah lama redah dan tidak kumat-kumatan lagi. Saya kembali membangunkan teman untuk kedua kalinya. “ Ayo zin dang tangi, udane wes leren lho dang sholato terus budal wes telat ki lho” ujar saya dengan alis yang tersambung alias dengan nada marah. Mas izin dan Hisyam Ali terbangun dari tidurnya, dia langsung bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Dhuhur. Saya dengan santai menunggu mereka berdua didalam kamar sampai mereka berdua selesai sholat Dhuhur. Kira-kira menunggu 10 menit mereka sudah selesai semua dan siap untuk berangkat kuliah. Kami sudah telat lama sekitar 20 menit dari jam masuk kuliah. Kami langsung tancap gas sepeda dan segera berangkat kekampus untuk mengejar ketertinggalan. Dengan genangan air hujan disepanjang jalan menjadi saksi buat kami dan  membuat perjalanan kami sedikit terganggu. Terutama genangan yang ada didalam pintu masuk gerbang UINSA. Disitu genangan air lumayan dalam kira-kira 30 CM, ketika itu bersamaan juga keluarnya mobil pribadi dan  truk proyek UINSA. Kami harus mengalah salah satu untuk menunggu giliran masuk kedalam kampus.
Waktu terus berjalan, sesampai diparkiran kami langsung memarkir sepeda dan bergegas masuk kelas. Ditengah perjalanan menuju kelas, kami berpapasan dengan mas Irfan senior kami yang kebetulan satu kelas, dia kami ajak bareng masuk kelas. Ketika sampai didepan mading koran kami berempat berhenti sejenak dan membaca koran sebentar, padahal sudah terlambat lama sekitar setengah jam. Anehnya lagi Hisyam sama Faizin malah enak-enakan menghisap rokok didepan koran seperti orang yang tidak mempunyai beban sama sekali. Saya mengajak Hisyam duluan untuk masuk ke kelas sedangkan mas Izin dan mas Irfan masih asyik membaca koran. Saya berdua naik tangga menuju kelorong yang kebetulan kelasnya ada dilantai dua dari arah lorong nomor satu.
Mas berambut gondrong jalan didepan saya, ketika tiba didepan pintu dia langsung mengetuk dan mengucapakan salam.”Assalamualaikum” ujar mas berkuncit itu. Dari dalam kelas pak Prof langsung menjawabnya “Wa’alaikumsalam Wr.Wb”, Hisyam langsung ditanya oleh pak Dosen” dari mana saja sampean?” “maaf ustadz dari baru bangun tidur” jawab mas Hisyam sambil senyum, bertepatan juga teman saya yang lain sudah masuk kelas yaitu Faizin, Hakim, dan mas Irfan. Tanpa basa basi  pak Ali langsung menyuruh kami berlima untuk Ruku’ dan Sujud dengan masing-masing membaca Tasbih 150X.”Ayo ruku’ dan sujud sana semuanya dengan masing-masing membaca tasbih 150X” ujar pak berkacamata dengan nada agak tinggi  sambil menunjukkan tangan kearah utara. Kami langsung mengambil posisi untuk melaksanakan hukuman Ruku’ dan Sujud itu disebelah utara dari pintu masuk bibelakang tiang dinding. Kami berbaris rapi seperti ketika nenunaikan sholat berjama’ah di masjid atau musholla. Ini adalah hukuman kedua saya setelah sebelumnya saya dihukum untuk Sujud dengan membaca Tasbih 150X. Sungguh kejam tetapi banyak hikmahnya, salah satu yaitu dengan Ruku’ dan Sujud hati kita akan tenang dan tentram karena kedua hal itu bisa mendekatkan kita kepada Allah ketika kami menunaikan shalat. Disamping itu kita diajari untuk selalu tepat waktu atau disiplin kalau tidak disiplin maka Anda harus siap menerima resikonya. Saya Ruku’ dan Sujud sangat unik, karena saya Ruku’ dan Sujud memakai sepatu dan asal Ruku’ dan Sujud saja tanpa mewajibkan untuk wudhu terlebih dahulu dan tempat untuk Sujud harus terjamin kesuciannya. Karena didalam syarat dan rukun shalat sepatu harus dilepas kecuali muzah atau sepatu kulit boleh dipakai untuk shalat sedangkan sepatu yang saya pakai waktu itu adalah sepatu kain dan kesuciannya juga tidak terjamin. Terus tempat yang digunakan harus benar-benar suci kalau najis maka tidak boleh digunakan untuk sujud sebelum disucikan terlebih dahulu.
Setelah Ruku’ dan Sujud, saya langsung mengambil tempat duduk didepan sendiri. Sambil duduk saya mengeluarkan HP dari dalam tas untuk merekam apa yang telah disampaikan oleh pak dosen. Karena saya sudah mengira nantinya bakal dikasih tugas oleh beliau menulis apa yang telah beliau sampaikan sebanyak 7 lembar dan diperintahkan untuk diunggah kedalam blognya masing-masing. Saya menyuruh mas Samsuri yang kebetulan duduk disamping kanan saya untuk meletakkan HP saya di bangku terdapan yaitu tepat di depan dia duduk, kebetulan juga bangku itu tepat didepan pak Prof menerangkan mata kuliahnya kepada teman-teman. Enak kalau didepan beliau, karena suaranya terang dan jelas ketika nanti diputar rekamannya.
Karenya saya sudah ketinggalan mata kuliah lama, akhirnya saya bertanya kepada teman-teman yang sudah masuk duluan.”Tris dikongkon lapo?” tanya saya kepada Trisno sambil menoleh kebelakang.”dikongkon nulis 7 lembar dan dikumpulkan sekarang juga” jawab Gendut sambil sibuk menulis apa yang telah diterangkan oleh pak Ali Aziz. Saya melihat teman-teman lagi asyik menggoyangkan tangan kanan sambil megang pena dan menulis di atas kertas putih. Tetapi ada sebagian dari teman-teman dengan santai menulis apa yang beliau jelaskan. Sayapun mulai menulis apa adanya sesuai dengan kapasitas daya tangkap pikiran saya kepada apa yang pak dosen sampaikan.
Siang itu, saya menangi beliau menjelaskan betapa pentingnya ucapan berterimakasih kepada orang lain atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada kita semua. Untuk poin yang pertama saya tidak menangi penjelasan beliau. Sementara untuk poin yang kedua, beliau menerangkan bersama teman lomba lari atau jalan sehat, kemudian dia menulis surat setelah lomba lari. Surat itu berisi tentang “terima kasih kamu sudah menjadi teman lari saya”. “Ya Allah tidak apa-apa gigi saya dicabut, asalkan pada waktu mengucapkan lafadz engkau datang dan menolongku untuk memahamkannya” ungkap pak Ali ketika menjelaskan. Apa yang beliau simpulkan berarti sedikit saja kesedihan maka itu akan mempengaruhi darah Anda. Jadi tidak ada kesedihan yang tidak berpengaruh pada diri Anda. Dan bagaimana dengan orang yang sedihnya bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk darah orang yang sedihnya bertahun-tahun? Bencinya kepada orang itu bertahun-tahun itu bagaimana dan coba bayangkan? Berarti menyangkut penjelasan itu tadi. Jadi ketika setiap manusia tersenyum maka siapa yang senyum pertama kali yaitu Allah. Allah itu sifatnya Syakkur. Pak Aziz menulis lafadz Syakkur dengan tulisan arab dipapan tulis tanpa syakkal dan menulisnya dengan spidol warna biru. Pak berbaju taqwa putih dengan garis-garis hitam itu bertanya kepada teman saya, Trisno “kamu usia berapa Tris?”.”em....15 tahun pak, eh 17 pak, eh 20 tahun pak” jawab Trisno sambil tertawa dengan jawaban yang asal terucap saja tanpa dipikir terlebih dahulu. Mendengar jawaban Gendut seperti itu sontak semua teman sekelas ramai dan tertawa karena mendengar jawaban pak Kosma yang bohong. Masak badan sebesar itu masih umur 15 tahun anehnya lagi dia juga sudah semester 6. Pak dosen ketika mendengar jawaban seperti itu akhirnya beliau menulis di papan angka 20 dan di bawahnya 15 dengan melingkari keduanya.”365x15=5475” tulis pak Prof dipapan setelah mendapat jawaban dari mbak Ratu karena beliau menyuruh Ratu menghitung hasil dari bilangan itu. Pak berjenggot itu menjelaskan, apabila umur kita 15 tahun dan kita bisa mengucapkan terimakasih kepada orang lain dengan tersurat lebih dari lima ribu, maka kita pasti menjadi orang sukses.”Ayo Nitra kamu sudah mengucapkan terimakasih berapa kali dan kepada siapa saja yang tertulis lho?” tanya pak Ali sambil menunjuk Nitra.”em....kepada Ibu dan Ayah Prof, dua kali Insyaallah” jawab mbak cantik itu sambil tersenyum dan agak-agak lupa. Jawaban mbak Nitra seperti itu pak Ali jalan kepapan tulis dan menulis angka 2 dibawah 5475 dan menjumlanya seraya berkata “baru dua ya Nitra”. Kemudian pak Ali bertanya lagi teman saya yang lain, “ayo Azka kamu sudah berapa kali mengucapkan terimakasih kepada orang lain dengan tulisan?”.”emapat kali Prof” tegas Azka ketika ditanya. Pak Aziz kembali kedepan lagi dan beliau menghapus angka 2 dan diganti dengan angka 4.
Pak Prof menerangkan betapa pentingnya berterimakasih dan begitu dahsyat manfaat yang kita peroleh dengan ucapan terimakasih kepada orang lain atas segala jasa yang telah dia berikan kepada kita. Selanjutnya beliau mengucapkan ayat Al-Qur’an tentang Syukur, ayat itu berbunyi Lain Syakartu Laaziidzannakum......sampai ayat Lasyadiid. Beliau menyuruh Hakim untuk menulis ayat tersebut di papan. Hakim maju dan menerima spidol warna putih dari Prof. Ketika sampai didepan papan tulis Hakim tidak langsung menulis ayat tersebut tetapi malah mencarinya dulu di HP.”ayo kim dang ditulis ayatnya” ujar pak berkacama itu. “bentar Prof, saya masih mencari di HP dulu karena saya tidak hafal tulisannya” tandas Fathur. Karena terlalu lama tidak dia tulis, akhirnya pak Prof menyuruhnya untuk kembali ketempat duduk dan beliau sendiri yang menulisnya di papan dengan Bahasa Arab tanpa syakkal dan melingkari lafadz Syakartum dan Laaziidannakum. Pak Ali menerangkan maksud dari lafadz yang dilingkari itu dengan mencontohkan kejadian yang pernah beliau alami yang berhubungan dengan lafadz itu. Tiba-tiba ada dari teman kami yang tangannya digoyang-goyangkan sambil megang pena. Pak Prof langsung berkomentar “istirahat dulu ta, kok sudah ada yang menggoyangkan tangannya?”. “iya Prof” Serentak teman-teman sekelas. Karena beliau sudah paham apabila ada isyarat seperti itu berarti anak-anak capek. Dan beliau memberi waktu istirahat buat teman-teman.
Dirasa sudah cukup, pak Ali melanjutkan kembali menjelaskan dan menyuruh teman-teman supaya mulai menulis kembali. “Ingatlah jasa seseorang sekecil apapun dan lupakan kesalahan seseorang sebesar apapun. Senyum manusia berarti senyum tuhan” ujar beliau sambil maju ke papan tulis. Pak Prof kemudian bercerita pengalaman yang beliau alami semasa hidupnya. Teman-teman sangat antusias mendengarkan beliau bercerita, pengalaman yang begitu menginspirasi sampai teman-teman lupa akan tugas menulis yang beliau perintahkan.
Papan tulis menjadi tempat tujuan beliau untuk melingkari ayat Lain Syakartum.... sampai akhir, seraya berkata “Ayo implementasikan ayat ini dengan shalat kita?” sambil menunjuk Mahabbah, tetapi dia tidak bisa menjawab pertnyaan itu. Beliau melemparkan kepada teman-teman sekelas, ternyata mas Samsuri menjawab “Alhamdu” maksud dari mas Sam adalah dalam surat Al Fatihah. Pak Prof membenarkan jawaban mas Samsuri itu dan menerangkan panjang lebar menengai makna Alhamdu, tetapi sayang saya telat tidak mencatat penjelasan beliau, yang saya tangkap cuma Alhamdulillah adalah pesan Allah agar menjadi pribadi Hamdala.
Di akhir mata kuliah beliau kali ini sangat istimewa berbeda dengan lainnya, beliau minta foto satu-satu tiap mahasiswa dan disuruh menyertakan dalam artikel yang kami tulis ini. Meskipun awalnya saya terkena hukuman tetapi bisa terobati dengan foto bersama sang guru besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Senin, 27 April 2015

Pengertian Stakeholder


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Stakeholder
Rhenald Kasali: Stakeholders adalah kelompok-kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan/organisasi yang mempunyai peranan dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Mereka juga adalah pihak-pihak yang menjadi khalayak sasaran kegiatan PR. Istilah publik dalam PR merupakan khalayak sasaran dari kegiatan PR tersebut. Publik ini merupakan kumpulan dari orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
Frank Jefkins: Khalayak (public) adalah kelompok atau orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal maupun eksternal.
IPR: istilah khalayak sengaja dituangkan dalam istilah bermakna majemuk, yakni publics, dikarenakan kegiatan-kegiatan PR tidak diarahkan kepada khalayak dalam pengertian yang seluas-luasnya (masyarakat umum). Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan PR tersebut diarahkan kepada khalayak terbatas atau pihak-pihak tertentu yang berbeda-beda, dan masing-masing dengan cara yang berlainan pula.
Khalayak/publik perlu ditetapkan dalam suatu program PR agar seluruh kegiatan yang dikerjakan praktisi PR lebih terarah, terutama pesan-pesan yang akan disampaikannya agar menjadi lebih efektif. Penyebaran suatu pesan PR tidak dilakukan secara merata ke semua orang seperti halnya pesan-pesan iklan melalui media massa. PR bersifat diskriminatif dalam memilih khalayak.
Setiap perusahaan/organisasi memiliki sendiri khalayak khususnya. Kepada khalayak yang terbatas itulah perusahaan/organisasi selalu menjalin komunikasi, baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, khalayak atau publik perusahaan/organisasi pun dibedakan menjadi Publik Internal dan Publik Eksternal. 
1. Publik Internal
Publik internal adalah publik yang berada di dalam lingkup perusahaan/organisasi. Mereka terdiri dari:
  1. Perusahaan Induk/Prinsipal (bila ada)
  2. Anak Perusahaan/Perusahaan Cabang/Sister Company
  3. Para Investor
  4. Para Pemegang Saham
  5. Dewan Direksi/Komisaris
  6. Para Karyawan Perusahaan yang sudah ada
  7. Serikat Pekerja/SPSI (terutama perwakilan yang ada dalam perusahaan/organisasi)
  8. Keluarga dari para karyawan/anggota organisasi 
  9. Calon Karyawan perusahaan/anggota organisasi
2. Publik Eksternal
Publik eksternal adalah mereka yang berada di luar perusahaan/organisasi namun berkepentingan terhadap perusahaan/organisasi. Mereka adalah:
  1. Pelanggan / Konsumen / Pengguna produk & jasa perusahaan/organisasi 
  2. Media Massa (pers cetak, radio, televisi, internet)
  3. Mitra Usaha / Pemasok jasa dan berbagai macam barang (supplier)
  4. Para Distributor
  5. Pemerintah
  6. Masyarakat sekitar perusahaan/organisasi (Komunitas)
  7. Masyarakat Keuangan/Perbankan
  8. Retailer
  9. Kelompok Penekan (Pressure Groups)
  10. Para Pembentuk Opini (Opinion Leaders)
  11. Calon Pelanggan/Konsumen Potensial
  12. Pesaing/Kompetitor/Asosiasi perusahaan-perusahaan sejenis
  13. Organisasi Perburuhan (di luar Serikat Pekerja yang berada di dalam perusahaan/organisasi)
  14. Masyarakat Umum
B.     PENGELOLAAN HUBUNGAN DENGAN KARYAWAN
1.      Hubungan dengan karyawan
Yang dimaksud dengan karyawan adalah orang-orang dalam perusahaan yang tidak memegang jabatan struktural dan program komunikasi yang ditujukan kepada mereka disebut komunikasi internal. Suatu perusahaan/organisasi harus menyelenggarakan komunikasi internal yang baik, karena komunikasi internal bukan hanya memperlancar kegiatan saja tapi justru yang menggerakkan perusahaan/organisasi tersebut.
Komunikasi yang baik antara pihak manajemen dengan para karyawannya akan dapat memperbesar kemungkinan tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan/organisasi.
Seorang manajer PR yang bertugas membantu manajemen perusahaan/organisasi dalam menyelenggarakan komunikasi internal yang baik harus menguasai masalah dasar perusahaan/organisasi dan teknik-teknik komunikasi. Ia juga harus merumuskan dengan tepat program PR internalnya untuk jangka pendek maupun panjang dari sudut pandang yang luas. Tugas ini menjadikan PR berhubungan dengan hampir setiap anggota organisasinya.
Yang perlu diketahui oleh seorang PR bahwa dalam perusahaan/organisasi, komunikasi berlangsung secara vertikal, horizontal dan diagonal.
a.    Komunikasi Vertikal
Vertical Communication merupakan komunikasi yang dilakukan oleh pegawai bawahan kepada atasan maupun sebaliknya, pegawai atasan kepada bawahan. Komunikasi vertikal ke atas (vertical upward communication) baik melalui telepon maupun surat, bersifat resmi dan sungguh-sungguh. Dan pesan-pesan yang dikomunikasikan umumnya bersifat informatif. Sedangkan komunikasi vertikal ke bawah (vertical downward communication), pesan-pesannya lebih bersifat instruktif di samping bernada resmi dan sungguh-sungguh. 
b.   Komunikasi Horizontal
Horizontal Communication adalah komunikasi antara seorang pegawai dengan pegawai lain yang sama kedudukannya, misalnya antara seorang kepala bagian dengan kepala bagian lainnya, contohnya antara seorang manajer produksi dengan manajer pemasaran. Dalam situasi seperti itu, meskipun dalam situasi kerja, komunikasi dapat berlangsung lancar. Misalnya dalam percakapan telepon, tampak adanya keakraban yang tidak jarang diselingi tawa karena kedua orang yang sedang berkomunikasi itu saling mengenal dan memiliki kedudukan yang setara.
c.    Komunikasi Diagonal
Diagonal Communication atau komunikasi silang ialah komunikasi yang berlangsung antara seorang pegawai dari sebuah departemen dengan pegawai dari departemen lainnya dalam kedudukan yang berbeda, dalam arti yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya, misalnya percakapan antara manajer pemasaran kepada supervisor produksi. Situasi komunikasi pada jalur ini umumnya tidak leluasa seperti pada jalur horizontal, tetapi juga tidak kaku seperti pada jalur vertikal.
2.      Pengelolaan hubungan dengan karyawan pada saat krisis
Pada saat krisis menyerang perusahaan/organisasi, sangatlah vital untuk terus memberikan informasi kepada seluruh karyawan tentang situasi dan perkembangannya. Jangan sampai mereka mengetahui berita mengenai krisis yang menimpa perusahaan/organisasi mereka melalui media, seperti yang sering terjadi akibat pihak manajemen menutup-nutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi. Para karyawan merupakan duta organisasi/ perusahaan dan mereka harus diposisikan untuk menjelaskan kepada para konsumen/ pelanggan, keluarga dan teman-teman mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan/organisasi mereka.
Dalam menghadapi karyawan, departemen PR dapat meminta dukungan dari departemen Personalia karena mereka yang lebih mengetahui teknis hukum kepegawaian.
Para karyawan ini seharusnya memiliki akses terhadap pernyataan-pernyataan perusahaan kepada pers sebelum pernyataan-pernyataan tersebut dikeluarkan. Jika memungkinkan, briefing harus dilakukan untuk memberikan kesempatan mereka untuk bertanya. Alternatif lainnya, mereka dapat terus diberi informasi melalui e-mail (intranet), surat dari manajemen senior, buletin (newsletter) yang dicetak atau majalah dinding. Dengan karyawan, penting untuk mendapatkan kesadaran mereka bahwa masalah yang sedang menimpa perusahaan/organisasi juga menjadi masalah mereka, karena bila terjadi sesuatu dengan perusahaan, mereka juga yang akan terkena dampaknya.
Perusahaan/organisasi harus jujur dan terbuka tentang keputusan-keputusan yang sudah diambil untuk memecahkan masalah serta berbagi rencana “pemulihan” dengan para karyawan. Dan jangan lupa untuk terus memberitahukan perkembangan situasi secara teratur (Regester & Larkin, 2003:198).
Juga harus ada kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan/organisasi yang menjelaskan bagaimana peran karyawan untuk menjelaskan tentang situasi krisis kepada media. Sangat tidak mungkin dan salah jika perusahaan/organisasi mencoba untuk mengekang para karyawan, tetapi setidaknya mereka diharapkan dapat mengetahui apa yang diharapkan dari mereka jika mereka sadar akan kebijakan perusahaan.
a.      Contoh pengumuman kebijakan  
“Jika kalian didekati oleh seorang anggota pers untuk berkomentar tentang aspek-aspek kegiatan perusahaan, tolong katakan bahwa kalian bukanlah orang yang tepat untuk membantu permintaan mereka dan para wartawan seharusnya mengkontak kantor pers di Crisis Center perusahaan.”
Bila peristiwa krisis yang terjadi di perusahaan melibatkan karyawan sebagai korbannya, yang harus diperhatikan perusahaan adalah bagaimana memberikan informasi kepada keluarga karyawan tersebut karena hal ini sering terlupakan dalam manajemen komunikasi krisis.
Perusahaan-perusahaan yang sangat rawan terhadap peristiwa krisis seperti perusahaan konstruksi, pertambangan, transportasi hingga perusahaan-perusahaan yang memiliki pabrik sebaiknya meminta karyawannya mengisi form tentang siapa dari keluarga karyawan yang harus dihubungi perusahaan jika sampai terjadi kecelakaan terhadap karyawan tersebut. Dan data ini harus terus diperbaharui mengingat situasi keluarga karyawan pasti mengalami perubahan sehingga perusahaan tidak salah alamat dalam pemberitahuan kepada keluarga para karyawannya (Regester & Larkin, 2003:194).
Contoh kekacauan akibat tidak adanya data keluarga karyawan pernah dialami oleh Occidental Oil dalam tragedi Piper Alpha di Aberdeen ketika para karyawannya yang bekerja di lepas pantai mengalami musibah. Perusahaan tersebut tidak memiliki data yang akurat tentang siapa keluarga karyawan yang harus pergi ke Aberdeen. Ternyata beberapa di antara karyawan yang bekerja di lepas pantai tersebut memiliki istri lebih dari satu orang, sehingga dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi ketika mereka berkumpul di satu tempat.   
Pertanyaan yang akan diajukan oleh keluarga karyawan tidak akan terlalu jauh berbeda dari contoh-contoh yang diberikan berikut ini, sehingga perusahaan dapat mempersiapkan jawabannya jika terjadi kecelakaan pada karyawan perusahaannya:
  1. Apakah suami/istri/orang tua/anak kami ada di lokasi kejadian ketika kecelakaan terjadi?
  2. Kalau ya, apakah ia selamat?
  3. Jika dia terluka, di manakah dia sekarang dan kapan kami bisa berbicara kepadanya/menjenguknya?
  4. Jika dia memang terluka, seberapa parahkah lukanya dan sekarang dirawat di mana?
  5. Apakah perusahaan akan membantu kami mendatangi lokasi kejadian/tempat keluarga kami dirawat?
Jika yang terjadi adalah hal yang terburuk, yaitu kematian karyawan perusahaan, informasinya jangan pernah disampaikan melalui telepon. Seorang wakil senior dari perusahaan harus mendatangi keluarga karyawan, mungkin dengan ditemani oleh pihak yang berwenang seperti polisi atau wakil dari rumah sakit, untuk memberitahukan berita duka tersebut langsung kepada keluarga karyawan yang bersangkutan.
3.       Pengelolaan Hubungan dengan Investor dan Pemegang Saham
Para investor dan pemegang saham merupakan publik internal. Namun yang disebut sebagai investor bukan hanya para individu yang membeli surat-surat berharga saja, tetapi juga para analis investasi (yang memberi nasihat dan petunjuk untuk membeli atau tidak membeli surat berharga tertentu) dan pembeli partai besar yang merupakan suatu lembaga atau badan usaha (perusahaan yang khusus bergerak dalam usaha jual beli surat-surat berharga di bursa), yakni antara lain Yayasan Dana Pensiun, perbankan, perusahaan asuransi dan lembaga trust (Jefkins, 2003:83-84).
Di kebanyakan negara yang baru memulai pembangunan industrinya, pemegang saham memiliki kekuasaan yang sangat besar terutama bila perusahaan tersebut belum go public. Namun bila perusahaan tersebut sudah go public dan tidak ada lagi konsentrasi kepemilikan saham pada pihak tertentu, manajemen akan dapat lebih berkuasa (Kasali, 2003:66-67).
Seorang praktisi PR perlu merencanakan dan menjalankan program komunikasi keuangan untuk menjalin hubungan yang baik dengan para investor & pemegang saham serta menjaga kepercayaan mereka terhadap perusahaan.
Program komunikasi keuangan biasanya bertolak dari ‘kalender keuangan’, yakni (Beard, 2004:11; Effendy, 2002:110-111):
  1. Produksi laporan dan catatan keuangan perusahaan
  2. Pengumuman hasil periode awal dan pertengahan masa kerja
  3. Dokumen-dokumen untuk pertemuan dengan para pialang dan pemegang saham
  4. Pengorganisasian pertemuan tahunan dan kegiatan lain yang berhubungan dengannya.
  5. Pertemuan berupa tatap muka dengan para investor dan perjalanan keliling para pemegang saham perorangan 
  6. Presentasi kepada para kreditor dan pihak media
  7. Majalah/buletin perusahaan untuk publik eksternal
  8. Laporan tahunan yang lebih berisi mengenai kegiatan perusahaan secara umum dan semua aspek dalam kehidupan perusahaan (bukan laporan keuangan)
Jika suatu perusahaan gagal memberi informasi yang baik dan teratur kepada para investor & pemegang saham sehingga hubungannya menjadi tidak harmonis, maka harga sahamnya bisa merosot tajam yang pada akhirnya akan mengancam kelangsungan perusahaan tersebut.
4.      Pengelolaan hubungan dengan para investor & pemegang saham pada saat krisis
Para investor & pemegang saham adalah stakeholder internal yang sangat penting setelah karyawan. Kesalahan dalam mengelola hubungan dengan para investor & pemegang saham pada saat krisis menyerang perusahaan bisa berakibat fatal. Mereka menjadi kehilangan kepercayaan pada perusahaan dan menjual saham/melepas investasi mereka, sehingga harga saham perusahaan jatuh dan mudah diakuisisi oleh perusahaan lain yang jauh lebih kuat.
Untuk memberitahukan situasi krisis, perusahaan dapat mengadakan pertemuan secara periodik dan menyiapkan berbagai data tertulis yang memberitahukan perkembangan perusahaan dalam mengatasi krisis, terutama adalah masalah keuangan perusahaan. Dalam hal ini, departemen PR sebaiknya bekerja sama dengan Corporate Secretary yang lebih paham mengenai seluk beluk saham, terutama jika perusahaan sudah go public.
Jika pertemuan secara periodik sulit dilakukan, mereka tetap harus diberi informasi mengenai perkembangan perusahaan mengatasi krisis melalui laporan yang teratur, bisa melalui e-mail, surat tertulis dari manajemen perusahaan ataupun buletin (newsletter).
            Selain itu, dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), masalah krisis yang telah terjadi harus dilaporkan dan dibicarakan dengan para investor & pemegang saham karena sangat berbahaya apabila mereka mendapatkan informasi tersebut dari pihak lain, seperti dari jurnalis keuangan misalnya.
Bila krisis yang terjadi adalah akibat penawaran yang tidak diinginkan dari perusahaan lain untuk mengakuisisi perusahaan kita atau disebut dengan hostile takeover, langkah awal kita adalah membagi kategori para pemegang saham ini berdasarkan ukurannya, yaitu apakah mereka perorangan, institusi atau calon pembeli saham. Kemudian juga dibagi kategorinya berdasarkan area geografis serta rata-rata lamanya mereka menjadi pemegang saham perusahaan. Hak-hak atas hukum untuk menemukan identitas para investor di belakang calon pemegang saham harus diminta dan firma-firma broker yang terlibat dalam transaksi saham yang lebih besar harus terus dimonitor (Regester, 1996:160-161).
Pengetahuan tentang ukuran pemegang saham serta detil tipe-tipe mereka akan memberikan indikasi yang baik tentang kemana arah pengambilan suara. Penyebaran geografis akan memberikan ide di daerah mana iklan perusahaan akan mengambil perannya. Sedangkan lamanya waktu mereka menjadi pemegang saham perusahaan akan menunjukkan kesetiaan mereka pada perusahaan. Jika misalnya, sebagian besar pemegang saham perusahaan telah menjadi pemegang saham selama lima tahun tetapi harga saham, profit atau pertumbuhan dividen telah jatuh selama masa periode yang sama, kesetiaan pemegang saham bisa dipertanyakan bila mereka mendapat penawaran pembelian saham yang menarik dari pihak yang ingin mengakuisisi perusahaan kita (Regester, 1996:161).
Untuk masalah di atas, perusahaan juga harus mengadakan pertemuan secara periodik dengan para pemegang saham tersebut, baik yang perorangan maupun yang institusi, dan memberikan presentasi yang komprehensif tentang strategi bisnis perusahaan. Selain itu, pertemuan periodik juga dapat dilakukan dengan para pialang saham dan para jurnalis keuangan yang dapat membantu menaikkan citra perusahaan karena para pemegang saham biasanya lebih mempercayai pihak ketiga ini dibandingkan orang dalam perusahaan.
Survey tentang sikap pemegang saham juga dapat dilakukan untuk terus memantau kesetiaan mereka terhadap perusahaan. Selain itu, data kunci tentang seluruh pemegang saham ini harus terus diperbaharui, termasuk data finansial per saham dan ramalan kinerja perjualbelian saham (Regester, 1996:161-162).