BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Stakeholder
Rhenald Kasali: Stakeholders
adalah kelompok-kelompok yang berada di dalam maupun di luar
perusahaan/organisasi yang mempunyai peranan dalam menentukan keberhasilan
perusahaan. Mereka juga adalah pihak-pihak yang menjadi khalayak sasaran
kegiatan PR. Istilah publik dalam PR merupakan khalayak sasaran dari
kegiatan PR tersebut. Publik ini merupakan kumpulan dari orang-orang atau
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
Frank Jefkins: Khalayak
(public) adalah kelompok atau orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu
organisasi, baik secara internal maupun eksternal.
IPR: istilah
khalayak sengaja dituangkan dalam istilah bermakna majemuk, yakni publics,
dikarenakan kegiatan-kegiatan PR tidak diarahkan kepada khalayak dalam
pengertian yang seluas-luasnya (masyarakat umum). Dengan kata lain,
kegiatan-kegiatan PR tersebut diarahkan kepada khalayak terbatas atau
pihak-pihak tertentu yang berbeda-beda, dan masing-masing dengan cara yang
berlainan pula.
Khalayak/publik perlu ditetapkan dalam suatu
program PR agar seluruh kegiatan yang dikerjakan praktisi PR lebih terarah,
terutama pesan-pesan yang akan disampaikannya agar menjadi lebih efektif.
Penyebaran suatu pesan PR tidak dilakukan secara merata ke semua orang seperti
halnya pesan-pesan iklan melalui media massa. PR bersifat diskriminatif dalam
memilih khalayak.
Setiap perusahaan/organisasi memiliki sendiri
khalayak khususnya. Kepada khalayak yang terbatas itulah perusahaan/organisasi
selalu menjalin komunikasi, baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena
itu, khalayak atau publik perusahaan/organisasi pun dibedakan menjadi Publik
Internal dan Publik Eksternal.
1. Publik Internal
Publik internal adalah publik yang berada di
dalam lingkup perusahaan/organisasi. Mereka terdiri dari:
- Perusahaan Induk/Prinsipal (bila ada)
- Anak Perusahaan/Perusahaan Cabang/Sister Company
- Para Investor
- Para Pemegang Saham
- Dewan Direksi/Komisaris
- Para Karyawan Perusahaan yang sudah ada
- Serikat Pekerja/SPSI (terutama perwakilan yang ada dalam perusahaan/organisasi)
- Keluarga dari para karyawan/anggota organisasi
- Calon Karyawan perusahaan/anggota organisasi
2. Publik Eksternal
Publik
eksternal adalah mereka yang berada di luar perusahaan/organisasi namun
berkepentingan terhadap perusahaan/organisasi. Mereka adalah:
- Pelanggan / Konsumen / Pengguna produk & jasa perusahaan/organisasi
- Media Massa (pers cetak, radio, televisi, internet)
- Mitra Usaha / Pemasok jasa dan berbagai macam barang (supplier)
- Para Distributor
- Pemerintah
- Masyarakat sekitar perusahaan/organisasi (Komunitas)
- Masyarakat Keuangan/Perbankan
- Retailer
- Kelompok Penekan (Pressure Groups)
- Para Pembentuk Opini (Opinion Leaders)
- Calon Pelanggan/Konsumen Potensial
- Pesaing/Kompetitor/Asosiasi perusahaan-perusahaan sejenis
- Organisasi Perburuhan (di luar Serikat Pekerja yang berada di dalam perusahaan/organisasi)
- Masyarakat Umum
B.
PENGELOLAAN
HUBUNGAN DENGAN KARYAWAN
1.
Hubungan dengan
karyawan
Yang dimaksud dengan karyawan adalah
orang-orang dalam perusahaan yang tidak memegang jabatan struktural dan
program komunikasi yang ditujukan kepada mereka disebut komunikasi internal.
Suatu perusahaan/organisasi harus menyelenggarakan komunikasi internal yang
baik, karena komunikasi internal bukan hanya memperlancar kegiatan saja tapi
justru yang menggerakkan perusahaan/organisasi tersebut.
Komunikasi yang baik antara pihak manajemen
dengan para karyawannya akan dapat memperbesar kemungkinan tercapainya tujuan
dan sasaran perusahaan/organisasi.
Seorang manajer PR yang bertugas membantu manajemen perusahaan/organisasi dalam menyelenggarakan komunikasi internal yang baik harus menguasai masalah dasar perusahaan/organisasi dan teknik-teknik komunikasi. Ia juga harus merumuskan dengan tepat program PR internalnya untuk jangka pendek maupun panjang dari sudut pandang yang luas. Tugas ini menjadikan PR berhubungan dengan hampir setiap anggota organisasinya.
Seorang manajer PR yang bertugas membantu manajemen perusahaan/organisasi dalam menyelenggarakan komunikasi internal yang baik harus menguasai masalah dasar perusahaan/organisasi dan teknik-teknik komunikasi. Ia juga harus merumuskan dengan tepat program PR internalnya untuk jangka pendek maupun panjang dari sudut pandang yang luas. Tugas ini menjadikan PR berhubungan dengan hampir setiap anggota organisasinya.
Yang perlu diketahui oleh seorang PR bahwa
dalam perusahaan/organisasi, komunikasi berlangsung secara vertikal, horizontal
dan diagonal.
a.
Komunikasi
Vertikal
Vertical Communication merupakan komunikasi
yang dilakukan oleh pegawai bawahan kepada atasan maupun sebaliknya, pegawai
atasan kepada bawahan. Komunikasi vertikal ke atas (vertical upward
communication) baik melalui telepon maupun surat, bersifat resmi dan
sungguh-sungguh. Dan pesan-pesan yang dikomunikasikan umumnya bersifat
informatif. Sedangkan komunikasi vertikal ke bawah (vertical downward
communication), pesan-pesannya lebih bersifat instruktif di samping bernada
resmi dan sungguh-sungguh.
b.
Komunikasi
Horizontal
Horizontal Communication adalah komunikasi
antara seorang pegawai dengan pegawai lain yang sama kedudukannya, misalnya
antara seorang kepala bagian dengan kepala bagian lainnya, contohnya antara
seorang manajer produksi dengan manajer pemasaran. Dalam situasi seperti itu,
meskipun dalam situasi kerja, komunikasi dapat berlangsung lancar. Misalnya
dalam percakapan telepon, tampak adanya keakraban yang tidak jarang diselingi
tawa karena kedua orang yang sedang berkomunikasi itu saling mengenal dan
memiliki kedudukan yang setara.
c.
Komunikasi
Diagonal
Diagonal Communication atau komunikasi silang
ialah komunikasi yang berlangsung antara seorang pegawai dari sebuah departemen
dengan pegawai dari departemen lainnya dalam kedudukan yang berbeda, dalam arti
yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya, misalnya percakapan antara
manajer pemasaran kepada supervisor produksi. Situasi komunikasi pada jalur ini
umumnya tidak leluasa seperti pada jalur horizontal, tetapi juga tidak kaku
seperti pada jalur vertikal.
2.
Pengelolaan
hubungan dengan karyawan pada saat krisis
Pada saat krisis menyerang
perusahaan/organisasi, sangatlah vital untuk terus memberikan informasi kepada
seluruh karyawan tentang situasi dan perkembangannya. Jangan sampai mereka
mengetahui berita mengenai krisis yang menimpa perusahaan/organisasi mereka
melalui media, seperti yang sering terjadi akibat pihak manajemen
menutup-nutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi. Para karyawan merupakan duta
organisasi/ perusahaan dan mereka harus diposisikan untuk menjelaskan kepada
para konsumen/ pelanggan, keluarga dan teman-teman mereka tentang apa yang
sebenarnya terjadi pada perusahaan/organisasi mereka.
Dalam menghadapi karyawan, departemen PR dapat
meminta dukungan dari departemen Personalia karena mereka yang lebih mengetahui
teknis hukum kepegawaian.
Para karyawan ini seharusnya memiliki akses
terhadap pernyataan-pernyataan perusahaan kepada pers sebelum
pernyataan-pernyataan tersebut dikeluarkan. Jika memungkinkan, briefing harus
dilakukan untuk memberikan kesempatan mereka untuk bertanya. Alternatif
lainnya, mereka dapat terus diberi informasi melalui e-mail (intranet), surat
dari manajemen senior, buletin (newsletter) yang dicetak atau majalah dinding.
Dengan karyawan, penting untuk mendapatkan kesadaran mereka bahwa masalah yang
sedang menimpa perusahaan/organisasi juga menjadi masalah mereka, karena bila
terjadi sesuatu dengan perusahaan, mereka juga yang akan terkena dampaknya.
Perusahaan/organisasi harus jujur dan terbuka
tentang keputusan-keputusan yang sudah diambil untuk memecahkan masalah serta
berbagi rencana “pemulihan” dengan para karyawan. Dan jangan lupa untuk terus
memberitahukan perkembangan situasi secara teratur (Regester & Larkin,
2003:198).
Juga harus ada kebijakan yang dikeluarkan oleh
perusahaan/organisasi yang menjelaskan bagaimana peran karyawan untuk
menjelaskan tentang situasi krisis kepada media. Sangat tidak mungkin dan salah
jika perusahaan/organisasi mencoba untuk mengekang para karyawan, tetapi setidaknya
mereka diharapkan dapat mengetahui apa yang diharapkan dari mereka jika mereka
sadar akan kebijakan perusahaan.
a. Contoh pengumuman kebijakan
“Jika kalian didekati oleh seorang anggota pers
untuk berkomentar tentang aspek-aspek kegiatan perusahaan, tolong katakan bahwa
kalian bukanlah orang yang tepat untuk membantu permintaan mereka dan para
wartawan seharusnya mengkontak kantor pers di Crisis Center perusahaan.”
Bila peristiwa krisis yang terjadi di
perusahaan melibatkan karyawan sebagai korbannya, yang harus diperhatikan
perusahaan adalah bagaimana memberikan informasi kepada keluarga karyawan
tersebut karena hal ini sering terlupakan dalam manajemen komunikasi krisis.
Perusahaan-perusahaan yang sangat rawan
terhadap peristiwa krisis seperti perusahaan konstruksi, pertambangan,
transportasi hingga perusahaan-perusahaan yang memiliki pabrik sebaiknya
meminta karyawannya mengisi form tentang siapa dari keluarga karyawan yang
harus dihubungi perusahaan jika sampai terjadi kecelakaan terhadap karyawan
tersebut. Dan data ini harus terus diperbaharui mengingat situasi keluarga
karyawan pasti mengalami perubahan sehingga perusahaan tidak salah alamat dalam
pemberitahuan kepada keluarga para karyawannya (Regester & Larkin,
2003:194).
Contoh kekacauan akibat tidak adanya data
keluarga karyawan pernah dialami oleh Occidental Oil dalam tragedi Piper Alpha
di Aberdeen ketika para karyawannya yang bekerja di lepas pantai mengalami
musibah. Perusahaan tersebut tidak memiliki data yang akurat tentang siapa
keluarga karyawan yang harus pergi ke Aberdeen. Ternyata beberapa di antara
karyawan yang bekerja di lepas pantai tersebut memiliki istri lebih dari satu
orang, sehingga dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi ketika mereka
berkumpul di satu tempat.
Pertanyaan yang akan diajukan oleh keluarga
karyawan tidak akan terlalu jauh berbeda dari contoh-contoh yang diberikan
berikut ini, sehingga perusahaan dapat mempersiapkan jawabannya jika terjadi
kecelakaan pada karyawan perusahaannya:
- Apakah suami/istri/orang tua/anak kami ada di lokasi kejadian ketika kecelakaan terjadi?
- Kalau ya, apakah ia selamat?
- Jika dia terluka, di manakah dia sekarang dan kapan kami bisa berbicara kepadanya/menjenguknya?
- Jika dia memang terluka, seberapa parahkah lukanya dan sekarang dirawat di mana?
- Apakah perusahaan akan membantu kami mendatangi lokasi kejadian/tempat keluarga kami dirawat?
Jika yang
terjadi adalah hal yang terburuk, yaitu kematian karyawan perusahaan,
informasinya jangan pernah disampaikan melalui telepon. Seorang wakil senior
dari perusahaan harus mendatangi keluarga karyawan, mungkin dengan ditemani
oleh pihak yang berwenang seperti polisi atau wakil dari rumah sakit, untuk
memberitahukan berita duka tersebut langsung kepada keluarga karyawan yang
bersangkutan.
3.
Pengelolaan
Hubungan dengan Investor dan Pemegang Saham
Para investor dan pemegang saham merupakan
publik internal. Namun yang disebut sebagai investor bukan hanya para individu
yang membeli surat-surat berharga saja, tetapi juga para analis investasi (yang
memberi nasihat dan petunjuk untuk membeli atau tidak membeli surat berharga
tertentu) dan pembeli partai besar yang merupakan suatu lembaga atau badan
usaha (perusahaan yang khusus bergerak dalam usaha jual beli surat-surat
berharga di bursa), yakni antara lain Yayasan Dana Pensiun, perbankan,
perusahaan asuransi dan lembaga trust (Jefkins, 2003:83-84).
Di kebanyakan negara yang baru memulai
pembangunan industrinya, pemegang saham memiliki kekuasaan yang sangat besar
terutama bila perusahaan tersebut belum go public. Namun bila perusahaan
tersebut sudah go public dan tidak ada lagi konsentrasi kepemilikan saham pada
pihak tertentu, manajemen akan dapat lebih berkuasa (Kasali, 2003:66-67).
Seorang praktisi PR perlu merencanakan dan
menjalankan program komunikasi keuangan untuk menjalin hubungan yang baik
dengan para investor & pemegang saham serta menjaga kepercayaan mereka
terhadap perusahaan.
Program komunikasi keuangan biasanya bertolak
dari ‘kalender keuangan’, yakni (Beard, 2004:11; Effendy, 2002:110-111):
- Produksi laporan dan catatan keuangan perusahaan
- Pengumuman hasil periode awal dan pertengahan masa kerja
- Dokumen-dokumen untuk pertemuan dengan para pialang dan pemegang saham
- Pengorganisasian pertemuan tahunan dan kegiatan lain yang berhubungan dengannya.
- Pertemuan berupa tatap muka dengan para investor dan perjalanan keliling para pemegang saham perorangan
- Presentasi kepada para kreditor dan pihak media
- Majalah/buletin perusahaan untuk publik eksternal
- Laporan tahunan yang lebih berisi mengenai kegiatan perusahaan secara umum dan semua aspek dalam kehidupan perusahaan (bukan laporan keuangan)
Jika suatu perusahaan gagal memberi informasi
yang baik dan teratur kepada para investor & pemegang saham sehingga
hubungannya menjadi tidak harmonis, maka harga sahamnya bisa merosot tajam yang
pada akhirnya akan mengancam kelangsungan perusahaan tersebut.
4.
Pengelolaan
hubungan dengan para investor & pemegang saham pada saat krisis
Para investor & pemegang saham adalah
stakeholder internal yang sangat penting setelah karyawan. Kesalahan dalam
mengelola hubungan dengan para investor & pemegang saham pada saat krisis
menyerang perusahaan bisa berakibat fatal. Mereka menjadi kehilangan
kepercayaan pada perusahaan dan menjual saham/melepas investasi mereka,
sehingga harga saham perusahaan jatuh dan mudah diakuisisi oleh perusahaan lain
yang jauh lebih kuat.
Untuk memberitahukan situasi krisis, perusahaan
dapat mengadakan pertemuan secara periodik dan menyiapkan berbagai data
tertulis yang memberitahukan perkembangan perusahaan dalam mengatasi krisis,
terutama adalah masalah keuangan perusahaan. Dalam hal ini, departemen PR
sebaiknya bekerja sama dengan Corporate Secretary yang lebih paham mengenai
seluk beluk saham, terutama jika perusahaan sudah go public.
Jika pertemuan secara periodik sulit dilakukan,
mereka tetap harus diberi informasi mengenai perkembangan perusahaan mengatasi
krisis melalui laporan yang teratur, bisa melalui e-mail, surat tertulis dari
manajemen perusahaan ataupun buletin (newsletter).
Selain itu, dalam RUPS (Rapat Umum
Pemegang Saham), masalah krisis yang telah terjadi harus dilaporkan dan dibicarakan
dengan para investor & pemegang saham karena sangat berbahaya apabila
mereka mendapatkan informasi tersebut dari pihak lain, seperti dari jurnalis
keuangan misalnya.
Bila krisis yang terjadi adalah akibat
penawaran yang tidak diinginkan dari perusahaan lain untuk mengakuisisi
perusahaan kita atau disebut dengan hostile takeover, langkah awal kita adalah
membagi kategori para pemegang saham ini berdasarkan ukurannya, yaitu apakah
mereka perorangan, institusi atau calon pembeli saham.
Kemudian juga dibagi kategorinya berdasarkan area geografis serta
rata-rata lamanya mereka menjadi pemegang saham perusahaan. Hak-hak atas
hukum untuk menemukan identitas para investor di belakang calon pemegang saham
harus diminta dan firma-firma broker yang terlibat dalam transaksi saham yang
lebih besar harus terus dimonitor (Regester, 1996:160-161).
Pengetahuan tentang ukuran pemegang saham serta
detil tipe-tipe mereka akan memberikan indikasi yang baik tentang kemana arah
pengambilan suara. Penyebaran geografis akan memberikan ide di daerah mana
iklan perusahaan akan mengambil perannya. Sedangkan lamanya waktu mereka
menjadi pemegang saham perusahaan akan menunjukkan kesetiaan mereka pada
perusahaan. Jika misalnya, sebagian besar pemegang saham perusahaan telah
menjadi pemegang saham selama lima tahun tetapi harga saham, profit atau
pertumbuhan dividen telah jatuh selama masa periode yang sama, kesetiaan
pemegang saham bisa dipertanyakan bila mereka mendapat penawaran pembelian
saham yang menarik dari pihak yang ingin mengakuisisi perusahaan kita
(Regester, 1996:161).
Untuk masalah di atas, perusahaan juga harus
mengadakan pertemuan secara periodik dengan para pemegang saham tersebut, baik
yang perorangan maupun yang institusi, dan memberikan presentasi yang
komprehensif tentang strategi bisnis perusahaan. Selain itu, pertemuan periodik
juga dapat dilakukan dengan para pialang saham dan para jurnalis keuangan yang
dapat membantu menaikkan citra perusahaan karena para pemegang saham biasanya
lebih mempercayai pihak ketiga ini dibandingkan orang dalam perusahaan.
Survey tentang sikap pemegang saham juga dapat
dilakukan untuk terus memantau kesetiaan mereka terhadap perusahaan. Selain
itu, data kunci tentang seluruh pemegang saham ini harus terus diperbaharui,
termasuk data finansial per saham dan ramalan kinerja perjualbelian saham
(Regester, 1996:161-162).
Categories :
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar