Pages

Rabu, 01 April 2015

SUBHANALLAH 150 KALI



SUBHANALLAH 150 KALI

Siang itu tepatnya pukul 12.00, saya bangun tidur pada salah satu kamar yang ada di pondok pesantren darul arqom. Kamar yang lebarnya kira-kira 3x4 meter itu dengan cat warna putih sebelah kanan pintu masuk pondok. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.05, saya bergegas ambil wudhu di kamar mandi sebelah selatan pondok. Setelah itu saya menunaikan sholat dhuhur berjamaah dengan teman saya, bukhori dan heri di dalam kamar.
Kemudian ba’da sholat dhuhur, saya membangunkan teman saya si rambut gondrong untuk segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuhur. “Ayo syam......dang tangi wes jam 12.15 lho...dang sembahyang,” ungkap saya. Setelah si rambut gondrong selesai sholat dhuhur, kita berpakaian rapi dan siap berangkat ke kampus dengan mengendarai HONDA Supra X 125R yang berwarna hitam dengan saya sopiri sendiri.
Sesampai dikampus, saya melihat jam pada ponsel saya sudah menunjukkan pukul 12.30. “Waduh telat suwe iki, kiro-kiro oleh mlebu ta gak yo?,” ungkap hati kecilku. Saya berjalan menuju kelas dengan tergesa-gesa. Sesampai di depan kelas di lantai 2, dari tangga masuk ke kanan, ruang nomor dua dari pojok tepatnya di ruang D1.211. saya mengetuk pintu dengan mengucapkan salam. “Assalamualaikum....” sambil membuka pintu. Seketika bapak dosen menyuruh saya dan teman saya untuk sujud syukur.”Ayo sujud syukur dengan membaca Subhanallah 150X” kata pak prof dengan nada yang agak tinggi. Tanpa berpikir panjang saya langsung bersujud di lantai, entah lantai itu suci atau tidak dengan memakai sepatu. Baru pertama kali ini saya bersujud dengan memakai sepatu dan tanpa di duga-duga.”Waduh kenek hukuman rek....gak bejoku dino iki, sek tas mlebu kelas langsung di kongkon sujud,” ungkapku dengan perasaan grogi dan malu.
Setelah selesai sujud, saya duduk di bangku sebelah kiri baris ke 3 dari depan, nomor 2 dari kiri dinding. Saya mendengarkan bapak yang berjenggot putih menyampaikan mata kuliah Teknik Khitobah 2, dengan antusias. Bapak yang khas dengan kacamata putih itu, menjelaskan mengapa menyuruh untuk sujud syukur?.”Anda semua ini masih beruntung, karena saya tidak marah dan hanya saya suruh sujud syukur saja,” ujarnya.
Ketika bapak dengan kostum keren itu menyuruh teman-teman untuk menulis sebuah artikel tentang kejadian di siang ini, pak prof meminta saya untuk berbicara “Ayo handika berbicara tentang kejadian siang ini?,” ujar pak jenggot putih itu. Sayapun bingung apa yang harus saya ucapkan.”Aduh ngomong opo iki, kok bingung kabeh aku,” ungkapku dalam hati dengan perasaan benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus saya ucapkan, si prof  juga menatapku dengan tatapan yang menakutkan.
Akhirnya bapak yang beruban itu menyuruh teman-teman menulis apa yang terjadi di siang ini.”Ayo....pokoe nulis, jangan ada coretan pokoknya nulis lurus saja,” kata pak prof. Dengan motivasi yang beliau berikan, akhirnya saya menulis apa adanya. Semua yang ada di pikiran saya tuangkan diatas kertas putih. Akhirnya saya menulis dengan pelan-pelan. Sesekali bapak dengan 7 anak itu berdiri disamping kiri bangku dengan melihat saya yang sedang menulis. Saya grogi dan tidak pede karena beliau melihat tulisan saya dan sayapun tidak berani melihatnya, karena takut salah dengan apa yang saya tulis.”Pak prof kok gak mere-mere yo....sungkan ngeniki, tulisanku disawangi terus,” ungkap perasaanku.
Karya :Handika Rahmatullah


7 komentar :

jejak faizin mengatakan...

subhanallahe mbten kirang katah ta mas??hehehehe

Moh Hisyam Ali Masfu' mengatakan...

ancene gak bejoe kene mas...hehehe

Anonim mengatakan...

alhamdulillah kita pasti ikhlas melakukannya

Azka Azkiya mengatakan...

penuh makna :)

Unknown mengatakan...

tapi ikhlas kan melakukan hukumannya ,,

Unknown mengatakan...

duduk manis sambil mengejah kata-kata diatas

Unknown mengatakan...

Hukuman yang bermanfaat dan mendidik...

Posting Komentar