BAB II
PEMBAHASAN
A.PRASYARAT
ORGANIS
1.Pernafasan
dan Teknik Bernafas
Sebuah pepatah tua dari India
berbunyi : “Nafas adalah pengatur segala sesuatu.
Pettenkofer mengatakan, “Adalah
menarik, bahwa dalam hidup yang biasa, orang lebih mementingkan air yang
diminum dan kurang mementingkan udara yang dihirup. Meskipun menurut jumlahnya
kenikmatan akan air itu berbeda daripada kenikmatan akan udara, namun sebaiknya
orang lebih mementingkan udara yang dihirup waktu menarik nafas.
Erich Drach mengatakan, “Dilihat
dari segi psikologi, berbicara itu adalah menghembuskan nafas. Menurut
tujuannya, berbicara berarti pertama-tama: bernafas yang benar.
Goethe mengatakan, “Waktu menarik
nafas ada dua anugerah yang diperoleh: memasukkan udara segar, (dan)
menghembuskan udara kotor. Udara yang kotor itu menekan, sedangkan udara yang
masuk itu menyegarkan. Betapa indah hidup ini tercampur. Sebab itu,
bersyukurlah kepada Tuhan, kalau dia menekan anda dan bersyukurlah kepadanya,
bila dia melegakan anda kembali.
Kesehatan jiwa dan badan seorang
manusia yang penuh tergantung dari pernafasan yang baik dan benar. Teknik
bernafas yang tepat dapat menjadi sarana untuk menghilangkan penyakit tekanan
darah tinggi dan penyakit kronis. Di samping itu ada banyak penyakit lain yang
dapat disembukan oleh teknik bernafas yang baik dan benar.
a.Proses
Penafasan
Di dalam dunia dewasa ini banyak zat
pembakar menjadi kotor oleh pengaruh teknologi modern. Justru karena itu, zat
pembakar yang semakin kurang ini dipergunakan sebaik mungkin untuk kepentingan
organ tubuh manusia melalui teknik pernafasan yang baik.
Ada empat cara bernafas yang kita kenal :
1)
Pernafasan dada
2)
Pernafasan perut
3)
Pernafasan sisi dari rongga perut dan dada
4)
Pernafasan dalam (dan penuh)
Pernafasan dalam (dan penuh) adalah
kombinasi dari pernafasan dada, perut, dan sisi rongga dada dan perut.
Pernafasan ini bersifat ritmis dan lambat jalannya.
Dalam retorika dibutuhkan teknik
pernafasan yang tepat, karena pernafasan yang tepat dan baik adalah prasyarat
untuk berbicara. Ia adalah motor dari pembicaraan. Pernafasan yang dangkal akan
menuntut terlalu banyak tenaga yang keluar waktu berbicara. Atas dasar itu
dapat dikatakan bahwa tanpa pernafasan yang tepat, maka tidak dapat juga orang
berbicara baik. Tetapi dalam kenyataan kebanyakan orang mempergunakan
pernafasan dada. Seorang yang pandai berbicara harus menguasai teknik
pernafasan dalam, sebagai kombinasi dari ketiga jenis pernafasan yang lain.
b.Hal yang
Harus Diketahui
Berbicara itu pada dasarnya
memberikan bunyi dan suara pada waktu menghembus nafas, sebab manusia itu
berbicara ketika dia menghembus nafas. Jadi seni utamanya tidak terletak pada
menarik nafas, tetapi justru sebaliknya yakni waktu menghembuskan nafas.
Masalahnya ialah bahwa kalau orang bernafas tidak dalam, maka sebagian besar CO2
tidak dikeluarkan, tetapi tinggal di dalam paru-paru. Hal ini menyebabkan hanya
sedikit udara segar yang masuk ke dalam paru-paru.
c.Teknik
Bernafas pada Awal dan Selama Berpidato
Hembuskan nafas sedalam mungkin
sebelum Anda berbicara atau berpidato! Sebelum mulai berbicara, anda perlu
menghembuskan nafas, supaya udara kotor dalam paru-paru dikeluarkan, dan
paru-paru dikosongkan, sehingga ada cukup tempat untuk udara baru yang segar.
Ini akan mengakibatkan kata-kata atau kalimat pertama yang diucapkan kedengaran
jelas, juga waktu mengucapkannya anda tidak tergesa-gesa.
Bila anda bernafas secara dalam,
maka dalam satu menit anda akan bernafas sebanyak delapan kali. Pernafasan yang
tidak dalam akan berjumlah 14-18 kali dalam satu menit. Untuk membawakan pidato
atau ceramah perlu sejumlah besar udara yang masuk ke dalam paru-paru. Oleh
karena itu teknik bernafas secara mendalam harus dikuasai, sampai proses itu
bisa berjalan secara otomatis.
d.Mengontrol
Teknik Bernafas Tiap Hari
Setiap hari teknik bernafas harus
dikontrol. Orang harus tetap sadar untuk menarik dan menghembuskan nafas secara
dalam. Yang harus lebih diperhatikan ialah menghembuskan nafas; karena hal itu
penting untuk mengeluarkan udara yang sudah dipakai dari dalam paru-paru. Bila
mengalami rasa takut, cemas, dan tegang berusahalah supaya menarik nafas
perlahan-lahan dan dalam, menahan nafas beberapa detik, lalu menghembuskannya
lagi. Supaya pernafasan perut dan rongga dada bisa berfungsi baik, secara
otomatis, haruslah dibuat latihan pernafasan setiap hari, misalnya waktu
berjalan-jalan pada pagi atau sore hari di mana udara masih segar. Waktu
membaca atau berbicara, berusahalah supaya suku-suku kata terakhir diucapkan
dengan jelas dan diberi tekanan, sehingga dengan itu bisa menghembuskan nafas
dengan lebih baik.
e.Latihan-Latihan
Latihan bernafas untuk mengurangi ketegangan :
1.Duduklah
tegak lurus
2. Kedua pundak harus longgar dan
bebas; kedua telapak tangan diletakkan di atas perut.
3. Mulut
ditutup, lalu tariklah nafas perlahan-lahan melalui hidung. Tariklah nafas
sedalam mungkin sampai seluruh rongga perut diisi udara. Perut akan menjadi
besar dan terdorong ke depan.
4. Tariklah
nafas terus sampai seluruh rongga dada menjadi penuh dengan udara. (Bila
ada kesulitan pada permulaan, berhenti sejenak...; lalu mulai lagi dari awal)
5. Bila seluruh
rongga perut dan dada sudah penuh berhentilah menarik nafas. Tahanlah nafas
beberapa saat, lalu hembuskan perlahan-lahan melalui hidung.
1)Latihan
Membaca Waktu Bernafas
Kapasitas pernafasan dapat dilatih.
Caranya sebagai berikut: bernafaslah dalam lalu bacalah teks. Ketika
menghembuskan nafas, bacalah beberapa kalimat. Catatlah tiap kali, berapa
kalimat yang diucapkan selama menghembuskan nafas. Latihan ini dapat diulangi
beberapa kali. Pada hari berikutnya, latihlah sekali lagi dan perhatikanlah
beberapa jauh kemajuan yang sudah tercapai. Bila latihan ini dilakukan tiap
hari, maka kemajuan akan cepat tampak.
2)Latihan
Kelompok
Kelompok-kelompok spontan bisa
dibentuk, lalu dibuat latihan membaca. Akan kelihatan siapa yang perlu
melakukan latihan pernafasan.
3)Test Anak
Korek Api
Untuk bisa menilai hasil yang
dicapai waktu menghembuskan nafas, tariklah sedalam mungkin dan cobalah
menghembuskan nafas lewat mulut untuk mematikan satu anak korek api yang sedang
menyala, pada jarak 8 cm dari mulut. Kalau tidak berhasil, maka harus diulangi
latihan menarik dan menghembuskan nafas.
4)Test Lilin
dan Kelompok
Pasanglah tiga lilin di atas tiga
piring. Tempatkan ketiga piring pada satu garis lurus. Lalu cobalah! Setiap
anggota kelompok dapat mencoba untuk meniup lilin itu sampai padam.
Siapa yang mempunyai pernafasan yang
lemah, dapat membuat latihan sambil mengangkat lengannya. Waktu menarik nafas
lengan diangkat ke atas sampai sejajar dengan pundak; waktu menghembuskan
lengan diturunkan perlahan-lahan.
Latihan pernafasan harus juga
dijalankan oleh para penyanyi, sebab pernafasan mengaktifkan organ-organ di
dalam tubuh, memperluas resonansi dan memperkuat paru-paru. Para ahli pidato
tahu dengan pasti bahwa zat pembakar yang cukup di dalam paru-paru merupakan
kepastian retoris yang penting. Bila orang tidak cukup dan tidak memiliki
volume udara yang seharusnya, maka pembicaraan tidak akan membawa efektivitas.
Nafas adalah bensin dari dinamika manusiawi.
2.Membina
Suara
Suara itu penting untuk menciptakan
kontak dan simpati dengan para pendengar. Oleh karena itu suara sangat
bernilai. Apa arti anda, kalau pada pagi hari anda kehilangan suara? Dapatkah
anda menjalankan tugas tanpa memiliki suara? Suara manusia adalah satu
instrumen yang lunak, tetapi sekaligus juga luar biasa. Dengan suara orang bisa
tersenyum, bersungut-sungut, tertawa dan lain-lain, misalnya waktu menelepon.
Melalui suara orang dapat mengungkapkan reaksi manusiawi, situasi batin orang
lain, simpati, antipati, kemarahan dan kesedihan.
Suara yang dikeluarkan pertama-tama
bukan menyentuh budi manusia, melainkan fungsi perasaan manusia di dalam alam
bawah sadar. Reaksi yang positif atau negatif ini kemudian baru mempengaruhi
budi manusia, melalui getaran-getaran alam bawah sadar muncullah simpati atau
antipati.
Suara yang dikeluarkan oleh manusia
dapat memiliki berbagai macam karakter seperti dibawah ini :
a.
Suara yang
apatis, yang tidak menunjukkan tanda turut serta
b.
Suara yang
lemah karena terlalu payah
c.
Suara yang
cemas dan takut
d.
Suara yang
tidak percaya
e.
Suara yang
informatif
f.
Suara yang
aktif dan berinisiatif
g.
Suara yang
mengandung perasaan yang jernih
h.
Suara yang
dingin dan rasional
i.
Suara yang
bernada agitasi
j.
Suara yang
penuh perjuangan
k.
Suara yang
gaduh
a)Modulasi
Suara
Efektivitas dalam berbicara tidak hanya
tergantung dari teknik bernafas, resonansi dan artikulasi, tetapi juga
tergantung dari modulasi suara. Modulasi berarti satu perubahan ritmis dari
intonasi bahasa dalam hubungan dengan naik turunnya suara secara sadar. Oleh
modulasi, orang-orang dapat berbicara cepat dan lambat, kuat dan halus, tinggi
dan rendah atau dengan kombinasi dan variasi sesuai dengan keinginan pembicara
dan di samping itu modulasi juga mengkarakterisasi suara menjadi ramah,
gembira, sedih, hangat, sayu, ironis dan lain-lain.
1)Kegunaan
Modulasi
a.Modulasi dapat memberi motivasi
yang kuat kepadapara pendengar, karena menopang pesan yang disampaikan.
b.Modulasi
juga dapat memiliki daya yang meyakinkan dalam berpidato
Orang-orang harus berlatih sampai
dapat secara sadar membuat modulasi waktu berbicara sehingga mempertinggi
efektivitas pidatonya.
2)Latihan
Setiap kalimat di bawah ini memiliki
satu modulasi tertentu, yang memberi makna dan efektivitas pesan yang sesuai.
a.
Nada sopan
santun yang dingin
“Tentu saya senang bahwa anda begitu cepat
menyelesaikan pekerjaan itu. Tetapi, silahkan duduk! Bagaimana anda
menyelesaikan masalah sewa kamar itu?
b.
Nada
perfeksionis
“Saya masih ingin memperingatkan saudara sekali lagi,
bahwa pekerjaan harus dilaksanakan secara teliti, sampai sekecil-kecilnya! Kita
harus selalu bekerja sampai mendapat hasil yang sempurna!
c.
Nada Harapan
“Kalau kita berlibur ke Bali pasti akan bagus. Kalau
saya bayangkan tempat-tempat yang indah seperti Danau Bedugul, Kintamani,
Tampak Siring dan Kuta... wah... Maunya sekarang saya berhenti bekerja,
langsung membeli tiket dan terbang ke Denpasar!”
d.
Nada
Permohonan
“Saya minta tolong Pak! Tolong buatkan untuk saya
surat kelakuan baik. Saya sangat membutuhkannya sekarang, saya terdesak!
Tolong... ya, jangan mempersulit. Untuk itu saya haturkan banyak terima kasih!”
e.
Nada
Perintah
“Buatkan surat kelakuan baik untuk
Tuan ini! Hati-hati, tidak boleh ada salah ketik! Sesudah 30 menit harus sudah
ada di atas meja saya, saya harus menandatanganinya, karena dia sangat
membutuhkannya!”
f.
Nada Marah
“Kau sudah buat lagi satu kesalahan yang fatal di
dalam akte ini! Kau memang goblok! Tidak ada gunanya kau bekerja di sini!
Keluar dari ruangan ini. Kalau tidak, saya lempar kau lewat jendela!”
g.
Nada benci
“Yang menjadi penyebab pasti anak brandal itu.
Terkutuklah dia! Semoga saya bisa bertemu dengan dia. Saya akan membalas dendam
sampai sehabis-habisnya, supaya dia bisa bertobat!”
h.
Nada
Bersorak Gembira
“Akhirnya kami berhasil juga... Sekarang tugas yang
berat itu sudah selesai! Segala perjuangan dan korban yang dijalankan selama
ini ternyata tidak percuma. Hura... hura... tujuan kini sudah tercapai!”
i.
Nada Takut
dan Cemas
“Kau dengar itu? Coba pasang telinga ... Ada langkah
mendekat. Siapa gerangan yang datang? Tenang, supaya mereka tidak mendengar.
Bahaya... kala mereka menemukan kita. Kita tidak dapat membela diri. Ssst....
tenang ...!
j.
Nada Ironis
“Kau boleh mengalahkan dia dua set langsung dalam
pertandingan badminton. Tetapi melawan saya, kau pasti tidak akan berkutik!”
b)Resonansi
dan Suara
Supaya suara itu sehat dan kuat
dalam bicara, maka harus dibina lewat resonansi. Ada bagian-bagian tubuh
manusia yang dapat memberi resonansi yang kuat. Bagian-bagian ini adalah:
1)Seluruh kerangka tulang tubuh
manusia. Tulang itu memberi dan melanjutkan resonansi suara ke mana-mana,
sehingga suara itu menjadi besar dan jelas. Bukan daging yang memberi resonansi,
tetapi tulang.
2)Rongga
kerongkongan.
3)Tengkorak
kepala manusia seperti: tulang dahi, kedua rahan atas dan tulang hidung.
4)Rongga
dada
5)Rongga
dada adalah bagian tubuh yang memberi resonansi yang paling besar.
Bila seluruh aparat resonansi itu
dikerahkan dan dikoordinasi maka getaran suara akan terasa di seluruh tubuh
manusia. Suara akan menjadi jelas dan sehat.
3.Gerak-gerik
dan Bahasa Tubuh
Menurut penyelidikan ilmu
pengetahuan, tubuh dapat menjadi duta yang menyampaikan pesan atau maksud kepada
manusia lain. Gerak-gerik dan ekspresi tubuh manusia dapat melengkapi,
meneguhkan maksud yang disampaikan; atau sebaliknya dapat juga menghalangi
tercapainya sesuatu maksud. Gerak-gerik dan ekspresi tubuh dapat mengungkapkan
pikiran dan perasaan manusia yang paling dalam paling tersembunyi.
Untuk mempertinggi efektivitas
pidato, orang harus memperhatikan gerak-gerik tubuh dan ekspresi anggota
tubuhnya. Sesudah memperhatikan hal-hal yang positif dan negatif dalam
gerak-gerik tubuh sendiri, orang bisa berusaha melenyapkan atau memperbaikinya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan dengan gerak-gerik dan
ekspresi tubuh:
1)Langkah
yang pendek atau panjang, cepat atau lambat pasti atau tidak pasti.
2)Sikap
tubuh waktu duduk, berdiri atau berjalan (melangkah).
3)Gerak-gerik, rasa gugup,
ketenangan dan sikap khusus pada diri sendiri waktu berpidato.
4)Gerak
kepala, waktu berbicara di dalam kelompok.
5)Muka dan
ekspresinya: cerah, gembira, sungguh-sungguh, keras, kaku dan asli?
6)Mata:
pandangannya membawa efek yang ramah atau tidak.
7)Tangan dan lengan: tergantung
lurus ke bawah, atau ikut bergerak/ digerakkan waktu berbicara; atau jari-jari
dimainkan tanpa ada hubungan dengan pembicaraan; memberi tanda ada hubungan
dengan pembicaraan; memberi tanda yang ofensif atau agresif.
Gerak-gerik adalah satu bantuan
optis untuk memperjelas apa yang diucapkan, oleh karena itu, tidak boleh
berlebih-lebihan. Kebanyakan pembicara sudah menguasai gerak-gerik tertentu,
sehingga dapat dipergunakan kapan saja, bilamana mereka mengucapkan suatu
pidato. Bahayanya, gerak-gerik yang dihafal tidak lagi sesuai dengan apa yang
diucapkan. Ia tidak berfungsi menjelaskan apa yang diucapkan, malah
mengelirukan para pendengar. Untuk menghindarkan hal itu, maka pembicara
sebaiknya membuat latihan di hadapan rekan atau sahabatnya supaya mereka
menilai gerak-geriknya. Untuk memudahkan pembicaraan waktu berpidato, orang
dapat memberi tanda pada teks, di mana ia harus menunjukkan gerak-gerik atau
mimik. Kalau bisa, waktu membuat latihan untuk menguasai teks, pembicara dapat
mencoba gerak-gerik dan mimik ini di depan cermin untuk melihat efeknya. Tiga
hal yang harus diperhatikan dalam menilai gerak-gerik dan mimik:
1)Gerak-gerik
harus cocok dan jelas sesuai dengan apa yang diucapkan.
2)Gerak-gerik dan mimik tidak boleh
berlebih-lebihan, juga tidak boleh terlalu sederhana, sehingga pendengar tidak
bisa melihat atau memperhatikannya.
3)Gerak-gerik yang sama tidak boleh
diulang dalam satu pidato, juga tidak boleh terlalu kurang.
B.PRASYARAT
BAHASA
1. Bahasa dan
Retorika
Siapa yang berjumpa manusia dan
berbicara dengan dia akan segera mengenal kekuatan dan kelemahan manusiawinya.
Siapa yang membuka mulutnya dan berbicara, akan menang atau kalah. Tidak ada
jalan tengah! Bahasa merupakan alat pengukur nilai seseorang dalam hubungan
antarmanusia. Keberhasilan atau kegagalan dalam hidup sering bergantung dari
kepandaian berbicara. Apa gunanya pengetahuan luas yang dimiliki di dalam otak,
kalau tidak bisa diungkapkan dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti?
Untuk mencapai satu kepribadian yang
memancarkan wibawa, dibutuhkan juga format penggunaan bahasa yang baik dan
tepat, sikap yang mulia dan budi yang halus. Kepastian dan ketepatan dalam
menggunakan bahasa sangatlah menentukan kepastian penampilan dan efekitivitas
karya. Kita sendirilah yang akan menjelaskan kepada pendengar, melalui
ungkapan-ungkapan manusiawi kita dan ketepatan retorik bagaimana mereka
mengkotakkan dan memperlakukan kita.
Sering terjadi bahwa oleh karena
kekurangterampilan dalam mempergunakan kepandaian bicara, kita berbicara
mengawang, tidak mengena di hati pendengar, tidak sesuai dengan kebutuhan
mereka; sehingga maksud kita tidak tercapai.
Bila kita berbicara mengawang, maka
kita tidak akan dimengerti, dan kalau kita tidak dimengerti, kita harus
berusaha supaya kita bisa dimengerti.
Banyak orang berbicara terlalu
banyak dan terlalu panjang, sering tanpa kontrol. Setiap orang, dalam
pembicaraannya, akan lebih baik dan meyakinkan, bila ia mempelajari kesanggupan
bahwa dengan mempergunakan kata-kata yang minimum ia dapat mencapai hasil
maksimum.Beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
Hanya sedikit orang, yang :
1)Mengenal
kemampuan dan bentuk berbahasanya.
2)Tahu,
apakah bahasanya kedengaran indah atau buruk.
3)Merasa,
apakah dia bicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
4) Tahu bahwa
ia berbicara tidak logis
5)Berbicara
sebagai orang terdidik dan berwibawa
6)Mendengarkan
dan menilai perbendaharaan kata-katanya
7)Mengontrol
dirinya sendiri selama berbicara
8)Tahu
bagaimana rupanya yang tampak waktu ia sedang berbicara.
9)Memiliki
kesadaran penuh sewaktu berbicara
a.Pentingnya
Bahasa
Orang dapat kehilangan wibawa dan
pengaruh dalam waktu beberapa menit saja, karena ketidakterampilan dan
ketidaktepatan, serta ketidakbecusan dalam membawakan satu pidato atau
pembicaraan. Juga bahasa yang bersifat informatif dapat dibawakan secara
menarik dan memukau. Bahasa juga perlu untuk bidang-bidang ilmu yang
membutuhkan keandalan rohani yang tinggi, tergantung bagaimana orang menyusun dan
membawakannnya. Suatu masalah, soal, ide, atau pikiran, baru akan berarti dan
menjadi penting, kalau bisa dibeberkan dengan bahasa yang baik. Oleh karena itu
berlakulah norma-norma di bawah ini :
1)Bahasa
tidak hanya merajai manusia, tetapi juga politik.
2)Bahasa
adalah nafas dari jiwa manusia.
3)Bahasa
sebuah batu loncatan emas menuju keberhasilan dalam hidup dan karya.
4)Bahasa
adalah penampakan luaran dari roh
5)Bahasa
adalah tanda pengenal materiil dari sinar kepribadian.
6)Yang lebih
penting daripada pidato ialah orang yang berpidato.
7)Seorang
yang berbudi luhur hendaknya memiliki bahasa yang halus dan luhur.
8)Bahasa
juga menjadi kerdil, kalau orang tidak menghiraukannya.
b.Kesadaran
Berbicara dan Efektivitasnya
Sekitar 95% manusia berbicara tanpa
sadar. Berarti mereka tidak mendengar akibat dari bahasanya, kata-kata yang
dipilihnya, susunan kalimatnya, rasa bahasa, nada monoton dari suaranya, tempo
bicaranya dan artikulasinya! Orang menjadi terlalu sibuk dengan bahan yang
dibicarakan dan tenggelam di dalamnya sehingga tidak sadar lagi akan bahasa
yang dipergunakan. Alat-alat bicara dan gerakan motorik bicaranya berjalan
secara otomatis; terjadi di dalam proses yang intuitif atau malah instingtif,
sejauh dimungkinkan oleh tingkat pendidikan. Oleh karena itu semua orang yang
berbicara sering terjatuh di dalam bahayayang besar.
Lewat bahasa yang tidak disadari,
orang tidak lagi merasakan gerakan badannya. Orang tidak lagi mengontrol
gambaran luar dan akibat estetis dari bahasanya. Tetapi justru semuanya ini
memancing simpati atau sebaliknya antipati.
Itulah sebabnya setiap pembicara
harus memiliki kesadaran akan akibat-akibat pembicaraannya. Berarti ia harus
mengontrol bahasanya. Untuk itu orang harus memperhatikan ketentuan-ketentuan
di bawah ini:
1)Setiap orang akan menjadi lebih
liar dalam berbahasa, kalau ia tidak mendengarkan dirinya yang sedang
berbicara.
2)Tanpa kesadaran berbicara orang
tidak akan memiliki kesadaran akan akibat kemanusiaan.
3)Bila waktu berbicara, pembicara
tidak melihat mata para pendengar (tidak ada kontak mata dengan pendengar), itu
berarti pembicaraannya tidak akan mengena di hati pendengar.
4)Seorang
pembicara yang ramah akan mendapat simpati.
5)Tak seorang pun boleh kehilangan
kesadaran akan akibat pembicaraannya waktu berbicara. Ia harus selalu sadar dan
mempertimbangkan akibat pembicaraannya waktu sedang berbicara.
2.
Ritme dan
Dinamika Bicara
a.
Dinamika
Bicara
Suara adalah penopang dan pembantu dalam membina
dinamika bicara. Sering terjadi bahwa orang-orang terdidik seperti guru, dosen
atau profesor-profesor berbicara terlalu pelan dan membosankan, tanpa dinamika.
Bahasanya tidak memiliki efek yang sugestif. Karena ketiadaan dinamika bahasa,
mereka tidak dapat menyentuh dunia perasaan pendengar dan karena itu tidak bisa
memiliki dinamika, akan memberikan kesan-kesan terhadap pembicaraannya sebagai
berikut :
1.Kaku dan
bersifat rutin
2.Kurang
rasa kepastian
3.Kehendak
dan kemauan yang lemah
4.Kurang
sumber-sumber kekuatan/daya
5.Kurang
percaya diri
6.Tanpa
semangat
7.Memiliki
rasa takut dan cemas
8.Kurang
memiliki perasaan
Ketiadaan dinamika dalam berbicara
dan berbahasa akan membawa pengaruh negatif terhadap kewibawaan dan kepribadian
pembicara. Pembicara yang lemah, kering, kaku, dan monoton akan menurunkan
nilai kepribadiannya di mata pendengar. Oleh karena itu seorang pembicara yang
ingin sukses dalam kariernya harus memiliki dinamika dalam berbahasa, yang
mengandung daya meyakinkan dan daya persuasi. Dinamika ini dapat dibina dengan
jalan:
1.Memperkuat
hembusan nafas
2.Memperkuat
resonansi dalam tubuh
3.Mempertajam
dan mempertepat artikulasi
4.Memperlambat
tempo bicara oleh memperlambat ucapan vokal dan urutan bicara.
Dalam hal ini pembicara sendiri harus melatih diri.
b.
Ritme Bicara
Untuk percakapan sehari-hari dan
bahasa populer tidak diperlukan suatu ritme bahasa. Penekanan kata yang baik
dan tepat sudah cukup. Makna kata atau kalimat ditentukan tanda-tanda baca dan
teknik pernafasan. Sudah dibicarakan bahwa pause/istirahat singkat di tengah
kalimat dapat juga menentukan ritme bicara. Tetapi bagi pembicara yang baik dan
demi efektivitas pidato, hal-hal di atas ini belum cukup. Pembicara harus juga
memperhatikan aturan ritmis dalam metrum dan bait. Ayat dalam satu bait dan
metrum adalah komponen-komponen yang menentukan untuk memberi dinamika suatu
kata.
Cicero mengatakan, “Telinga atau
sebenarnya jiwa, lewat mana telinga menerima suatu keterangan memiliki dalam
dirinya satu ukuran tertentu yang alamiah untuk mendengar segala bunyi. Atas
dasar itu ia mengenal, apakah sesuatu itu terlalu panjang atau terlalu singkat
dan selalu mengharapkan sesuatu yang lebih sempurna dan teratur”. Bentuk-bentuk
ritme bahasa itu menyebabkan bahasa yang diucapkan menjadi lebih hidup dan
lebih bervariasi dalam irama daripada yang dinyanyikan. Ini akan menjadi dasar
melodi yang akan memperindah bahasa yang diucapkan. Semua ini tampaknya terlalu
teoritis, tetapi sebenarnya menyangkut hal-hal praktis. Setiap orang yang harus
berbicara, hendaknya sekurang-kurangnya menerima dan mengerti bagian-bagian
yang paling penting, dan hal ini justru tergantung dari apa yang dikatakan dan
bagaimana orang mengatakannya. Kalau tidak dibawakan secara menarik, maka
bahan-bahan hasil industri tidak akan laku di pasaran. Dalam kehidupan praktis,
substansi bahasa harus juga diberi busana yang indah menarik.
3.Perbendaharaan
Kata
a.Fungsi
Perbendaharaan Kata
Menurut penyelidikan, orang yang
paling terdidik dapat memahami 12.000 pengertian. Orang yang terdidik memahami
kira-kira 8 sampai 10 ribu pengertian. Orang yang berpendidikan sederhana hanya
memahami 6 sampai 8 ribu pengertian dari seluruh perbendaharaan kata. Dari
jumlah perbendaharaan kata-kata yang dipahami secara pasif ini, hanya kira-kira
seperlima sampai seperempat yang dapat dipergunakan secara aktif.
Ketika manusia lahir, kepalanya
masih kosong. Perlahan-lahan ia mulai mempelajari kata-kata dan mulai memahami
pengertian-pengertian; dan dengan itu ia mulai berpikir. Manusia berpikir
dengan mempergunakan kata-kata dan pengertian. Tanpa kata-kata dan pengertian
manusia tidak mungkin dapat berpikir. Yang menarik adalah bahwa “volume
berpikir” manusia itu sebanding dengan jumlah keseluruhan perbendaharaan kata
yang dimilikinya.
Setiap kata memiliki isi. Isi kata
ini menghantar manusia kepada pengertian. Jadi kata-kata adalah tanda bahasa
dari pengertian-pengertian. Setiap orang harus menguasai pengertian-pengertian
dan kata-kata. Dalam kehidupan praktis, banyak orang yang karena jabatan dan
tugasnya harus mempengaruhi, mensugesti dan meyakinkan orang lain, dan semuanya
itu hanya mungkin kalau dia memiliki kata dan pengertian yang cukup. Artinya,
kalau dia memiliki perbendaharaan kata yang cukup. Pengertian dan kata-kata
atau perbendaharaan kata yang luas menunjukkan tingkat pendidikan dan volume
rohani seseorang. Bagaimana kata-kata itu ditemukan.
b.Memperluas
Perbendaharaan Kata
Kata-kata itu ada, bermacam-macam.
Ada yang baik, sangat baik, mulia, halus, sopan, tepat dan indah. Tetapi di
samping itu ada juga kata-kata yang kasar, primitif, menyinggung perasaan,
menimbulkan kejengkelan atau kata-kata murahan. Orang bisa menyelidiki
perbendaharaan kata-katanya dengan jalan merekam pembicaraannya dan sesudah itu
mendengarkan kembali. Orang sendiri akan terkejut waktu mendengar kata-kata
yang dipergunakannya. Tidak hanya itu, tetapi dialetik, suara dan susunan
kalimat yang dipergunakannya akan mengejutkan dia. Itulah sebabnya setiap
pembicara perlu memperluas perbendaharaan kata-katanya. Caranya adalah sebagai
berikut:
1)Menyelidiki
perbendaraahn kata-kata lewat bandrecorder
2)Memperhatikan
perbendaharaan kata-kata yang dipergunakan orang lain.
3)Membaca
buku-buku yang baik dan bermutu
4)Mendengar
pidato dari para ahli atau orang-orang terkenal.
5)Mempelajari
kata-kata baru lalu mempergunakannya.
6)Melatih
mempergunakan sinonim kata-kata.
7)Melihat
dan mendengarkan aktris-aktris kenamaan.
4.Susunan
Kalimat
Gaya kalimat dan pidato ditentukan
oleh konstruksi kalimat. Itu berarti satu kalimat adalah manifestasi isi
pikiran yang sederhana atau yang terdiri dari berbagai segi. Atas dasar susunan
kalimat-kalimat pidato, orang dapat mengetahui format logis dan rohani seorang
manusia. kalimat itu dapat bermacam-maca: ada yang pendek, sederhana, setengah
panjang, panjang, rumit dan sulit. Dalam abad ke 18 ada mode untuk menyusun
pidato dengan mempergunakan kalimat-kalimat yang panjang. Tetapi dewasa ini,
kalimat-kalimat panjang bukan lagi merupakan mode; sebab kalimat yang panjang
menyulitkan pembicara untuk mengatur pernafasan. Setiap bagian kalimat dapat
menjadi penghalang, yang harus ditangkap dan dimengerti dengan susah payah.
Bagi para pendengar, kalimat panjang akan sulit di tangkap dan dimengerti.
Pendengar akan sukar mengikuti jalan
pikiran pidato semacam ini, dan lebih lagi mereka akan sukar memahaminya.
Kalimat-kalimat yang panjang membawa efek negatif, sebab :
1)Sering
memiliki tatabahasa yang buruk dan merusakkan gaya bahasa
2)Mempersulit
jalan pikiran
3)Mengacaukan
para pendengar dan menyebabkan perhatiannya menurun
4)Membantu
melahirkan ketidakpastian
5)Tidak
memiliki efek menurut psikologi
6)Terlalu
mahal, karena menuntut konsentrasi yang 4-5 kali lebih besar.
Oleh karena itu sebuah pidato
sebaiknya mempergunakan kalimat-kalimat yang pendek, sebab kalimat pendek:
1)Mudah
dipakai untuk bermain kata
2) Mudah untuk
diberi tanggapan rohani
3)Bersifat
logis dan jelas
4)Segera
akan dimengerti
5)Membentuk
diri secara dinamis dan penuh daya
6)Memungkinkan
teknik pause
7)Memberi
waktu untuk bernafas
8)Tidak menuntut konsentrasi yang besar.
Categories :
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar