HUKUMAN KEDUA BERBUAH FOTO BARENG
Siang ini sekitar pukul 11.00 langit yang mulanya cerah tiba-tiba
menjadi gelap disertai angin yang cukup kencang. Tak lama hujanpun turun dengan
lebat melanda Wonocolo dan sekitarnya. Hujan yang lebat itu menjadi musibah
buat saya. Karena siang ini sekitar pukul 12.20 saya ada mata kuliah Teknik
Khitobah II yang mana Dosennya beda dari yang lain. Sebut saja namanya pak Prof
Ali Aziz. Siapa yang tidak kenal beliau, se Fakultas Dakwah dan Komunikasi
pasti mengenal sosok Prof Ali Aziz. Dosen kelahiran Lamongan itu ketika
mengajar mata kuliah Teknik Khitobah II sangat disiplin dan bikin puyeng dengan
tugas-tugas yang beliau berikan kepada mahasiswa. Tetapi dengan tugas-tugas
yang beliau berikan, mahasiswa akan merasakan manfaatnya yang begitu besar dan bakat-bakat
yang terpendam akan muncul dengan paksaan
yang beliau berikan.
Kembali ke cerita diawal, hujan tak kunjung redah sampai sekitar
jam 12.05 ketika saya melihat jam di HP. Saya mengambil wudhu di kamar mandi
sebelah kanan kamar pondok pesantren Darul Arqom dengan memakai kaos berwarna
hitam kombinasi hijau daun dan memakai celana kain hitam. Kira-kira 7 menit
saya didalam kamar mandi itu dan langsung kembali ke kamar untuk melaksanakan
Sholat Dhuhur. Iringan Dzikir terucap dari mulut saya dengan suara yang lembut
dan dengan hati yang khusu’ setelah menunaikan Sholat Dhuhur. Hujan sudah redah
tapi langit masih gelap dan mendung, sesekali hujan lebat kembali datang yang
menyebabkan saya malas untuk berangkat kuliah padahal jarum jam sudah
menunjukkan pukul 12.15.
“Ayo tangi gak sholat ta, wes jam 12.15 lho. Wayae Prof Ali engko
kenek hukum maneng atek kari”. Ungkap saya ketika membangunkan kedua teman
yaitu Hisyam dan Faizin yang lagi tidur mulas dikamar. ”engko sek jek udan lho,
libur pak prof gak masuk” jawab mas Faizin dengan nada bergumam dan masih
setengah sadar itu. Mendengar jawaban teman seperti itu sayapun nyantai dengan
asyik bermain HP dan tidak membangunkannya lagi.
Firasat saya mulai tidak enak, karena hujan sudah lama redah dan
tidak kumat-kumatan lagi. Saya kembali membangunkan teman untuk kedua kalinya.
“ Ayo zin dang tangi, udane wes leren lho dang sholato terus budal wes telat ki
lho” ujar saya dengan alis yang tersambung alias dengan nada marah. Mas izin
dan Hisyam Ali terbangun dari tidurnya, dia langsung bergegas mengambil wudhu
dan melaksanakan sholat Dhuhur. Saya dengan santai menunggu mereka berdua
didalam kamar sampai mereka berdua selesai sholat Dhuhur. Kira-kira menunggu 10
menit mereka sudah selesai semua dan siap untuk berangkat kuliah. Kami sudah
telat lama sekitar 20 menit dari jam masuk kuliah. Kami langsung tancap gas
sepeda dan segera berangkat kekampus untuk mengejar ketertinggalan. Dengan
genangan air hujan disepanjang jalan menjadi saksi buat kami dan membuat perjalanan kami sedikit terganggu.
Terutama genangan yang ada didalam pintu masuk gerbang UINSA. Disitu genangan
air lumayan dalam kira-kira 30 CM, ketika itu bersamaan juga keluarnya mobil
pribadi dan truk proyek UINSA. Kami
harus mengalah salah satu untuk menunggu giliran masuk kedalam kampus.
Waktu terus berjalan, sesampai diparkiran kami langsung memarkir
sepeda dan bergegas masuk kelas. Ditengah perjalanan menuju kelas, kami
berpapasan dengan mas Irfan senior kami yang kebetulan satu kelas, dia kami
ajak bareng masuk kelas. Ketika sampai didepan mading koran kami berempat
berhenti sejenak dan membaca koran sebentar, padahal sudah terlambat lama
sekitar setengah jam. Anehnya lagi Hisyam sama Faizin malah enak-enakan
menghisap rokok didepan koran seperti orang yang tidak mempunyai beban sama
sekali. Saya mengajak Hisyam duluan untuk masuk ke kelas sedangkan mas Izin dan
mas Irfan masih asyik membaca koran. Saya berdua naik tangga menuju kelorong
yang kebetulan kelasnya ada dilantai dua dari arah lorong nomor satu.
Mas berambut gondrong jalan didepan saya, ketika tiba didepan pintu
dia langsung mengetuk dan mengucapakan salam.”Assalamualaikum” ujar mas
berkuncit itu. Dari dalam kelas pak Prof langsung menjawabnya “Wa’alaikumsalam
Wr.Wb”, Hisyam langsung ditanya oleh pak Dosen” dari mana saja sampean?” “maaf
ustadz dari baru bangun tidur” jawab mas Hisyam sambil senyum, bertepatan juga
teman saya yang lain sudah masuk kelas yaitu Faizin, Hakim, dan mas Irfan.
Tanpa basa basi pak Ali langsung
menyuruh kami berlima untuk Ruku’ dan Sujud dengan masing-masing membaca Tasbih
150X.”Ayo ruku’ dan sujud sana semuanya dengan masing-masing membaca tasbih
150X” ujar pak berkacamata dengan nada agak tinggi sambil menunjukkan tangan kearah utara. Kami
langsung mengambil posisi untuk melaksanakan hukuman Ruku’ dan Sujud itu disebelah
utara dari pintu masuk bibelakang tiang dinding. Kami berbaris rapi seperti
ketika nenunaikan sholat berjama’ah di masjid atau musholla. Ini adalah hukuman
kedua saya setelah sebelumnya saya dihukum untuk Sujud dengan membaca Tasbih
150X. Sungguh kejam tetapi banyak hikmahnya, salah satu yaitu dengan Ruku’ dan
Sujud hati kita akan tenang dan tentram karena kedua hal itu bisa mendekatkan
kita kepada Allah ketika kami menunaikan shalat. Disamping itu kita diajari
untuk selalu tepat waktu atau disiplin kalau tidak disiplin maka Anda harus
siap menerima resikonya. Saya Ruku’ dan Sujud sangat unik, karena saya Ruku’
dan Sujud memakai sepatu dan asal Ruku’ dan Sujud saja tanpa mewajibkan untuk
wudhu terlebih dahulu dan tempat untuk Sujud harus terjamin kesuciannya. Karena
didalam syarat dan rukun shalat sepatu harus dilepas kecuali muzah atau sepatu
kulit boleh dipakai untuk shalat sedangkan sepatu yang saya pakai waktu itu
adalah sepatu kain dan kesuciannya juga tidak terjamin. Terus tempat yang
digunakan harus benar-benar suci kalau najis maka tidak boleh digunakan untuk
sujud sebelum disucikan terlebih dahulu.
Setelah Ruku’ dan Sujud, saya langsung mengambil tempat duduk
didepan sendiri. Sambil duduk saya mengeluarkan HP dari dalam tas untuk merekam
apa yang telah disampaikan oleh pak dosen. Karena saya sudah mengira nantinya
bakal dikasih tugas oleh beliau menulis apa yang telah beliau sampaikan
sebanyak 7 lembar dan diperintahkan untuk diunggah kedalam blognya
masing-masing. Saya menyuruh mas Samsuri yang kebetulan duduk disamping kanan
saya untuk meletakkan HP saya di bangku terdapan yaitu tepat di depan dia
duduk, kebetulan juga bangku itu tepat didepan pak Prof menerangkan mata
kuliahnya kepada teman-teman. Enak kalau didepan beliau, karena suaranya terang
dan jelas ketika nanti diputar rekamannya.
Karenya saya sudah ketinggalan mata kuliah lama, akhirnya saya
bertanya kepada teman-teman yang sudah masuk duluan.”Tris dikongkon lapo?”
tanya saya kepada Trisno sambil menoleh kebelakang.”dikongkon nulis 7 lembar
dan dikumpulkan sekarang juga” jawab Gendut sambil sibuk menulis apa yang telah
diterangkan oleh pak Ali Aziz. Saya melihat teman-teman lagi asyik
menggoyangkan tangan kanan sambil megang pena dan menulis di atas kertas putih.
Tetapi ada sebagian dari teman-teman dengan santai menulis apa yang beliau
jelaskan. Sayapun mulai menulis apa adanya sesuai dengan kapasitas daya tangkap
pikiran saya kepada apa yang pak dosen sampaikan.
Siang itu, saya menangi beliau menjelaskan betapa pentingnya ucapan
berterimakasih kepada orang lain atas segala kebaikan yang telah diberikan
kepada kita semua. Untuk poin yang pertama saya tidak menangi penjelasan
beliau. Sementara untuk poin yang kedua, beliau menerangkan bersama teman lomba
lari atau jalan sehat, kemudian dia menulis surat setelah lomba lari. Surat itu
berisi tentang “terima kasih kamu sudah menjadi teman lari saya”. “Ya Allah
tidak apa-apa gigi saya dicabut, asalkan pada waktu mengucapkan lafadz engkau
datang dan menolongku untuk memahamkannya” ungkap pak Ali ketika menjelaskan. Apa
yang beliau simpulkan berarti sedikit saja kesedihan maka itu akan mempengaruhi
darah Anda. Jadi tidak ada kesedihan yang tidak berpengaruh pada diri Anda. Dan
bagaimana dengan orang yang sedihnya bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk
darah orang yang sedihnya bertahun-tahun? Bencinya kepada orang itu
bertahun-tahun itu bagaimana dan coba bayangkan? Berarti menyangkut penjelasan
itu tadi. Jadi ketika setiap manusia tersenyum maka siapa yang senyum pertama kali
yaitu Allah. Allah itu sifatnya Syakkur. Pak Aziz menulis lafadz Syakkur dengan
tulisan arab dipapan tulis tanpa syakkal dan menulisnya dengan spidol warna
biru. Pak berbaju taqwa putih dengan garis-garis hitam itu bertanya kepada
teman saya, Trisno “kamu usia berapa Tris?”.”em....15 tahun pak, eh 17 pak, eh
20 tahun pak” jawab Trisno sambil tertawa dengan jawaban yang asal terucap saja
tanpa dipikir terlebih dahulu. Mendengar jawaban Gendut seperti itu sontak
semua teman sekelas ramai dan tertawa karena mendengar jawaban pak Kosma yang
bohong. Masak badan sebesar itu masih umur 15 tahun anehnya lagi dia juga sudah
semester 6. Pak dosen ketika mendengar jawaban seperti itu akhirnya beliau
menulis di papan angka 20 dan di bawahnya 15 dengan melingkari keduanya.”365x15=5475”
tulis pak Prof dipapan setelah mendapat jawaban dari mbak Ratu karena beliau
menyuruh Ratu menghitung hasil dari bilangan itu. Pak berjenggot itu
menjelaskan, apabila umur kita 15 tahun dan kita bisa mengucapkan terimakasih
kepada orang lain dengan tersurat lebih dari lima ribu, maka kita pasti menjadi
orang sukses.”Ayo Nitra kamu sudah mengucapkan terimakasih berapa kali dan
kepada siapa saja yang tertulis lho?” tanya pak Ali sambil menunjuk Nitra.”em....kepada
Ibu dan Ayah Prof, dua kali Insyaallah” jawab mbak cantik itu sambil tersenyum
dan agak-agak lupa. Jawaban mbak Nitra seperti itu pak Ali jalan kepapan tulis
dan menulis angka 2 dibawah 5475 dan menjumlanya seraya berkata “baru dua ya
Nitra”. Kemudian pak Ali bertanya lagi teman saya yang lain, “ayo Azka kamu
sudah berapa kali mengucapkan terimakasih kepada orang lain dengan tulisan?”.”emapat
kali Prof” tegas Azka ketika ditanya. Pak Aziz kembali kedepan lagi dan beliau
menghapus angka 2 dan diganti dengan angka 4.
Pak Prof menerangkan betapa pentingnya berterimakasih dan begitu
dahsyat manfaat yang kita peroleh dengan ucapan terimakasih kepada orang lain
atas segala jasa yang telah dia berikan kepada kita. Selanjutnya beliau
mengucapkan ayat Al-Qur’an tentang Syukur, ayat itu berbunyi Lain Syakartu
Laaziidzannakum......sampai ayat Lasyadiid. Beliau menyuruh Hakim untuk menulis
ayat tersebut di papan. Hakim maju dan menerima spidol warna putih dari Prof. Ketika
sampai didepan papan tulis Hakim tidak langsung menulis ayat tersebut tetapi
malah mencarinya dulu di HP.”ayo kim dang ditulis ayatnya” ujar pak berkacama
itu. “bentar Prof, saya masih mencari di HP dulu karena saya tidak hafal
tulisannya” tandas Fathur. Karena terlalu lama tidak dia tulis, akhirnya pak
Prof menyuruhnya untuk kembali ketempat duduk dan beliau sendiri yang
menulisnya di papan dengan Bahasa Arab tanpa syakkal dan melingkari lafadz Syakartum
dan Laaziidannakum. Pak Ali menerangkan maksud dari lafadz yang
dilingkari itu dengan mencontohkan kejadian yang pernah beliau alami yang
berhubungan dengan lafadz itu. Tiba-tiba ada dari teman kami yang tangannya
digoyang-goyangkan sambil megang pena. Pak Prof langsung berkomentar “istirahat
dulu ta, kok sudah ada yang menggoyangkan tangannya?”. “iya Prof” Serentak
teman-teman sekelas. Karena beliau sudah paham apabila ada isyarat seperti itu
berarti anak-anak capek. Dan beliau memberi waktu istirahat buat teman-teman.
Dirasa sudah cukup, pak Ali melanjutkan kembali menjelaskan dan
menyuruh teman-teman supaya mulai menulis kembali. “Ingatlah jasa seseorang
sekecil apapun dan lupakan kesalahan seseorang sebesar apapun. Senyum manusia
berarti senyum tuhan” ujar beliau sambil maju ke papan tulis. Pak Prof kemudian
bercerita pengalaman yang beliau alami semasa hidupnya. Teman-teman sangat
antusias mendengarkan beliau bercerita, pengalaman yang begitu menginspirasi
sampai teman-teman lupa akan tugas menulis yang beliau perintahkan.
Papan tulis menjadi tempat tujuan beliau untuk melingkari ayat Lain
Syakartum.... sampai akhir, seraya berkata “Ayo implementasikan ayat ini
dengan shalat kita?” sambil menunjuk Mahabbah, tetapi dia tidak bisa menjawab
pertnyaan itu. Beliau melemparkan kepada teman-teman sekelas, ternyata mas
Samsuri menjawab “Alhamdu” maksud dari mas Sam adalah dalam surat Al
Fatihah. Pak Prof membenarkan jawaban mas Samsuri itu dan menerangkan panjang
lebar menengai makna Alhamdu, tetapi sayang saya telat tidak mencatat
penjelasan beliau, yang saya tangkap cuma Alhamdulillah adalah pesan Allah agar
menjadi pribadi Hamdala.
Di akhir mata kuliah beliau kali ini sangat istimewa berbeda dengan
lainnya, beliau minta foto satu-satu tiap mahasiswa dan disuruh menyertakan
dalam artikel yang kami tulis ini. Meskipun awalnya saya terkena hukuman tetapi
bisa terobati dengan foto bersama sang guru besar Fakultas Dakwah dan
Komunikasi Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Categories :
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar