Pages

Selasa, 28 April 2015

HUKUMAN KEDUA BERBUAH FOTO BARENG



HUKUMAN KEDUA BERBUAH FOTO BARENG

Siang ini sekitar pukul 11.00 langit yang mulanya cerah tiba-tiba menjadi gelap disertai angin yang cukup kencang. Tak lama hujanpun turun dengan lebat melanda Wonocolo dan sekitarnya. Hujan yang lebat itu menjadi musibah buat saya. Karena siang ini sekitar pukul 12.20 saya ada mata kuliah Teknik Khitobah II yang mana Dosennya beda dari yang lain. Sebut saja namanya pak Prof Ali Aziz. Siapa yang tidak kenal beliau, se Fakultas Dakwah dan Komunikasi pasti mengenal sosok Prof Ali Aziz. Dosen kelahiran Lamongan itu ketika mengajar mata kuliah Teknik Khitobah II sangat disiplin dan bikin puyeng dengan tugas-tugas yang beliau berikan kepada mahasiswa. Tetapi dengan tugas-tugas yang beliau berikan, mahasiswa akan merasakan manfaatnya yang begitu besar dan bakat-bakat yang terpendam akan muncul dengan  paksaan yang beliau berikan.
Kembali ke cerita diawal, hujan tak kunjung redah sampai sekitar jam 12.05 ketika saya melihat jam di HP. Saya mengambil wudhu di kamar mandi sebelah kanan kamar pondok pesantren Darul Arqom dengan memakai kaos berwarna hitam kombinasi hijau daun dan memakai celana kain hitam. Kira-kira 7 menit saya didalam kamar mandi itu dan langsung kembali ke kamar untuk melaksanakan Sholat Dhuhur. Iringan Dzikir terucap dari mulut saya dengan suara yang lembut dan dengan hati yang khusu’ setelah menunaikan Sholat Dhuhur. Hujan sudah redah tapi langit masih gelap dan mendung, sesekali hujan lebat kembali datang yang menyebabkan saya malas untuk berangkat kuliah padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.15.
“Ayo tangi gak sholat ta, wes jam 12.15 lho. Wayae Prof Ali engko kenek hukum maneng atek kari”. Ungkap saya ketika membangunkan kedua teman yaitu Hisyam dan Faizin yang lagi tidur mulas dikamar. ”engko sek jek udan lho, libur pak prof gak masuk” jawab mas Faizin dengan nada bergumam dan masih setengah sadar itu. Mendengar jawaban teman seperti itu sayapun nyantai dengan asyik bermain HP dan tidak membangunkannya lagi.
Firasat saya mulai tidak enak, karena hujan sudah lama redah dan tidak kumat-kumatan lagi. Saya kembali membangunkan teman untuk kedua kalinya. “ Ayo zin dang tangi, udane wes leren lho dang sholato terus budal wes telat ki lho” ujar saya dengan alis yang tersambung alias dengan nada marah. Mas izin dan Hisyam Ali terbangun dari tidurnya, dia langsung bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Dhuhur. Saya dengan santai menunggu mereka berdua didalam kamar sampai mereka berdua selesai sholat Dhuhur. Kira-kira menunggu 10 menit mereka sudah selesai semua dan siap untuk berangkat kuliah. Kami sudah telat lama sekitar 20 menit dari jam masuk kuliah. Kami langsung tancap gas sepeda dan segera berangkat kekampus untuk mengejar ketertinggalan. Dengan genangan air hujan disepanjang jalan menjadi saksi buat kami dan  membuat perjalanan kami sedikit terganggu. Terutama genangan yang ada didalam pintu masuk gerbang UINSA. Disitu genangan air lumayan dalam kira-kira 30 CM, ketika itu bersamaan juga keluarnya mobil pribadi dan  truk proyek UINSA. Kami harus mengalah salah satu untuk menunggu giliran masuk kedalam kampus.
Waktu terus berjalan, sesampai diparkiran kami langsung memarkir sepeda dan bergegas masuk kelas. Ditengah perjalanan menuju kelas, kami berpapasan dengan mas Irfan senior kami yang kebetulan satu kelas, dia kami ajak bareng masuk kelas. Ketika sampai didepan mading koran kami berempat berhenti sejenak dan membaca koran sebentar, padahal sudah terlambat lama sekitar setengah jam. Anehnya lagi Hisyam sama Faizin malah enak-enakan menghisap rokok didepan koran seperti orang yang tidak mempunyai beban sama sekali. Saya mengajak Hisyam duluan untuk masuk ke kelas sedangkan mas Izin dan mas Irfan masih asyik membaca koran. Saya berdua naik tangga menuju kelorong yang kebetulan kelasnya ada dilantai dua dari arah lorong nomor satu.
Mas berambut gondrong jalan didepan saya, ketika tiba didepan pintu dia langsung mengetuk dan mengucapakan salam.”Assalamualaikum” ujar mas berkuncit itu. Dari dalam kelas pak Prof langsung menjawabnya “Wa’alaikumsalam Wr.Wb”, Hisyam langsung ditanya oleh pak Dosen” dari mana saja sampean?” “maaf ustadz dari baru bangun tidur” jawab mas Hisyam sambil senyum, bertepatan juga teman saya yang lain sudah masuk kelas yaitu Faizin, Hakim, dan mas Irfan. Tanpa basa basi  pak Ali langsung menyuruh kami berlima untuk Ruku’ dan Sujud dengan masing-masing membaca Tasbih 150X.”Ayo ruku’ dan sujud sana semuanya dengan masing-masing membaca tasbih 150X” ujar pak berkacamata dengan nada agak tinggi  sambil menunjukkan tangan kearah utara. Kami langsung mengambil posisi untuk melaksanakan hukuman Ruku’ dan Sujud itu disebelah utara dari pintu masuk bibelakang tiang dinding. Kami berbaris rapi seperti ketika nenunaikan sholat berjama’ah di masjid atau musholla. Ini adalah hukuman kedua saya setelah sebelumnya saya dihukum untuk Sujud dengan membaca Tasbih 150X. Sungguh kejam tetapi banyak hikmahnya, salah satu yaitu dengan Ruku’ dan Sujud hati kita akan tenang dan tentram karena kedua hal itu bisa mendekatkan kita kepada Allah ketika kami menunaikan shalat. Disamping itu kita diajari untuk selalu tepat waktu atau disiplin kalau tidak disiplin maka Anda harus siap menerima resikonya. Saya Ruku’ dan Sujud sangat unik, karena saya Ruku’ dan Sujud memakai sepatu dan asal Ruku’ dan Sujud saja tanpa mewajibkan untuk wudhu terlebih dahulu dan tempat untuk Sujud harus terjamin kesuciannya. Karena didalam syarat dan rukun shalat sepatu harus dilepas kecuali muzah atau sepatu kulit boleh dipakai untuk shalat sedangkan sepatu yang saya pakai waktu itu adalah sepatu kain dan kesuciannya juga tidak terjamin. Terus tempat yang digunakan harus benar-benar suci kalau najis maka tidak boleh digunakan untuk sujud sebelum disucikan terlebih dahulu.
Setelah Ruku’ dan Sujud, saya langsung mengambil tempat duduk didepan sendiri. Sambil duduk saya mengeluarkan HP dari dalam tas untuk merekam apa yang telah disampaikan oleh pak dosen. Karena saya sudah mengira nantinya bakal dikasih tugas oleh beliau menulis apa yang telah beliau sampaikan sebanyak 7 lembar dan diperintahkan untuk diunggah kedalam blognya masing-masing. Saya menyuruh mas Samsuri yang kebetulan duduk disamping kanan saya untuk meletakkan HP saya di bangku terdapan yaitu tepat di depan dia duduk, kebetulan juga bangku itu tepat didepan pak Prof menerangkan mata kuliahnya kepada teman-teman. Enak kalau didepan beliau, karena suaranya terang dan jelas ketika nanti diputar rekamannya.
Karenya saya sudah ketinggalan mata kuliah lama, akhirnya saya bertanya kepada teman-teman yang sudah masuk duluan.”Tris dikongkon lapo?” tanya saya kepada Trisno sambil menoleh kebelakang.”dikongkon nulis 7 lembar dan dikumpulkan sekarang juga” jawab Gendut sambil sibuk menulis apa yang telah diterangkan oleh pak Ali Aziz. Saya melihat teman-teman lagi asyik menggoyangkan tangan kanan sambil megang pena dan menulis di atas kertas putih. Tetapi ada sebagian dari teman-teman dengan santai menulis apa yang beliau jelaskan. Sayapun mulai menulis apa adanya sesuai dengan kapasitas daya tangkap pikiran saya kepada apa yang pak dosen sampaikan.
Siang itu, saya menangi beliau menjelaskan betapa pentingnya ucapan berterimakasih kepada orang lain atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada kita semua. Untuk poin yang pertama saya tidak menangi penjelasan beliau. Sementara untuk poin yang kedua, beliau menerangkan bersama teman lomba lari atau jalan sehat, kemudian dia menulis surat setelah lomba lari. Surat itu berisi tentang “terima kasih kamu sudah menjadi teman lari saya”. “Ya Allah tidak apa-apa gigi saya dicabut, asalkan pada waktu mengucapkan lafadz engkau datang dan menolongku untuk memahamkannya” ungkap pak Ali ketika menjelaskan. Apa yang beliau simpulkan berarti sedikit saja kesedihan maka itu akan mempengaruhi darah Anda. Jadi tidak ada kesedihan yang tidak berpengaruh pada diri Anda. Dan bagaimana dengan orang yang sedihnya bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk darah orang yang sedihnya bertahun-tahun? Bencinya kepada orang itu bertahun-tahun itu bagaimana dan coba bayangkan? Berarti menyangkut penjelasan itu tadi. Jadi ketika setiap manusia tersenyum maka siapa yang senyum pertama kali yaitu Allah. Allah itu sifatnya Syakkur. Pak Aziz menulis lafadz Syakkur dengan tulisan arab dipapan tulis tanpa syakkal dan menulisnya dengan spidol warna biru. Pak berbaju taqwa putih dengan garis-garis hitam itu bertanya kepada teman saya, Trisno “kamu usia berapa Tris?”.”em....15 tahun pak, eh 17 pak, eh 20 tahun pak” jawab Trisno sambil tertawa dengan jawaban yang asal terucap saja tanpa dipikir terlebih dahulu. Mendengar jawaban Gendut seperti itu sontak semua teman sekelas ramai dan tertawa karena mendengar jawaban pak Kosma yang bohong. Masak badan sebesar itu masih umur 15 tahun anehnya lagi dia juga sudah semester 6. Pak dosen ketika mendengar jawaban seperti itu akhirnya beliau menulis di papan angka 20 dan di bawahnya 15 dengan melingkari keduanya.”365x15=5475” tulis pak Prof dipapan setelah mendapat jawaban dari mbak Ratu karena beliau menyuruh Ratu menghitung hasil dari bilangan itu. Pak berjenggot itu menjelaskan, apabila umur kita 15 tahun dan kita bisa mengucapkan terimakasih kepada orang lain dengan tersurat lebih dari lima ribu, maka kita pasti menjadi orang sukses.”Ayo Nitra kamu sudah mengucapkan terimakasih berapa kali dan kepada siapa saja yang tertulis lho?” tanya pak Ali sambil menunjuk Nitra.”em....kepada Ibu dan Ayah Prof, dua kali Insyaallah” jawab mbak cantik itu sambil tersenyum dan agak-agak lupa. Jawaban mbak Nitra seperti itu pak Ali jalan kepapan tulis dan menulis angka 2 dibawah 5475 dan menjumlanya seraya berkata “baru dua ya Nitra”. Kemudian pak Ali bertanya lagi teman saya yang lain, “ayo Azka kamu sudah berapa kali mengucapkan terimakasih kepada orang lain dengan tulisan?”.”emapat kali Prof” tegas Azka ketika ditanya. Pak Aziz kembali kedepan lagi dan beliau menghapus angka 2 dan diganti dengan angka 4.
Pak Prof menerangkan betapa pentingnya berterimakasih dan begitu dahsyat manfaat yang kita peroleh dengan ucapan terimakasih kepada orang lain atas segala jasa yang telah dia berikan kepada kita. Selanjutnya beliau mengucapkan ayat Al-Qur’an tentang Syukur, ayat itu berbunyi Lain Syakartu Laaziidzannakum......sampai ayat Lasyadiid. Beliau menyuruh Hakim untuk menulis ayat tersebut di papan. Hakim maju dan menerima spidol warna putih dari Prof. Ketika sampai didepan papan tulis Hakim tidak langsung menulis ayat tersebut tetapi malah mencarinya dulu di HP.”ayo kim dang ditulis ayatnya” ujar pak berkacama itu. “bentar Prof, saya masih mencari di HP dulu karena saya tidak hafal tulisannya” tandas Fathur. Karena terlalu lama tidak dia tulis, akhirnya pak Prof menyuruhnya untuk kembali ketempat duduk dan beliau sendiri yang menulisnya di papan dengan Bahasa Arab tanpa syakkal dan melingkari lafadz Syakartum dan Laaziidannakum. Pak Ali menerangkan maksud dari lafadz yang dilingkari itu dengan mencontohkan kejadian yang pernah beliau alami yang berhubungan dengan lafadz itu. Tiba-tiba ada dari teman kami yang tangannya digoyang-goyangkan sambil megang pena. Pak Prof langsung berkomentar “istirahat dulu ta, kok sudah ada yang menggoyangkan tangannya?”. “iya Prof” Serentak teman-teman sekelas. Karena beliau sudah paham apabila ada isyarat seperti itu berarti anak-anak capek. Dan beliau memberi waktu istirahat buat teman-teman.
Dirasa sudah cukup, pak Ali melanjutkan kembali menjelaskan dan menyuruh teman-teman supaya mulai menulis kembali. “Ingatlah jasa seseorang sekecil apapun dan lupakan kesalahan seseorang sebesar apapun. Senyum manusia berarti senyum tuhan” ujar beliau sambil maju ke papan tulis. Pak Prof kemudian bercerita pengalaman yang beliau alami semasa hidupnya. Teman-teman sangat antusias mendengarkan beliau bercerita, pengalaman yang begitu menginspirasi sampai teman-teman lupa akan tugas menulis yang beliau perintahkan.
Papan tulis menjadi tempat tujuan beliau untuk melingkari ayat Lain Syakartum.... sampai akhir, seraya berkata “Ayo implementasikan ayat ini dengan shalat kita?” sambil menunjuk Mahabbah, tetapi dia tidak bisa menjawab pertnyaan itu. Beliau melemparkan kepada teman-teman sekelas, ternyata mas Samsuri menjawab “Alhamdu” maksud dari mas Sam adalah dalam surat Al Fatihah. Pak Prof membenarkan jawaban mas Samsuri itu dan menerangkan panjang lebar menengai makna Alhamdu, tetapi sayang saya telat tidak mencatat penjelasan beliau, yang saya tangkap cuma Alhamdulillah adalah pesan Allah agar menjadi pribadi Hamdala.
Di akhir mata kuliah beliau kali ini sangat istimewa berbeda dengan lainnya, beliau minta foto satu-satu tiap mahasiswa dan disuruh menyertakan dalam artikel yang kami tulis ini. Meskipun awalnya saya terkena hukuman tetapi bisa terobati dengan foto bersama sang guru besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

0 komentar :

Posting Komentar