Pages

Selasa, 28 April 2015

MANUSIA SEBAGAI KOMUNIKAN



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teks Hadits
A. Hadis I       
عن ا بي سعيد الخد رى رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص م يقول: من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف  الا يما ن (رواه مسلم)
Dari Abu Sa’id Al Khudri RA berkata, aku telah mendengar Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan (kekuatan) tangannya. Jika dengan kekuatan tangan tidak mampu, maka hendaklah dengan menegurnya.. jika masih tidak mampu juga maka hendaklah menegur dengan hatinya. Dan itulah tingkatan iman yang paling lemah.” ( HR. Muslim)[1]
B. Hadits II
 عن حذيفة رضى الله عنه عن النبى ص م قال: والذى نفسى بيده لتامرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر اوليو شكن الله يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم (رواه ترمذى)
Dari Huzaifah dari Rasulallah SAW bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seharusnya kalian menyuruh untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Jika tidak sungguh Allah akan menurunkan siksa pada kalian. Kemudian kamu berdoa pada-Nya, tapi Dia tidak mengabulkan do’amu.” (HR. Turmudzi)
C. Hadits III dan IV
وعن ابى مسعود عقبة بن عمر الانصاري البدري رضى الله عنه قال: قال رسول الله ص م: من دل على خير فله مثل اجر فاعله (رواه مسلم)
Dari Abu mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri RA berkata, bahwa Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa mengajak kepada kebaikan maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu.” (HR. Muslim)[2]
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان النبي ص م: من دعا الى هدى كان له من الاجر اجور من تبعه لا ينقص ذلم من اجورهم شيئا, ومن دعا الى ضلالة كان عليهم من الاثم مثل اثام من تبعه لا ينقص ذلك من اثامهم شيئا (رواه مسلم)                 
Dari Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasulallah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengajak pada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala yang dilakukan orang yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang sedikitpun. Dan barang siapa yang mengajak pada dosa, maka baginya dosa yang sama seperti yang didapat oleh orang yang melakukan apa yang diajaknya, tidak berkurang sedikitpun. “ (HR. Muslim)

2.2 Penjelasan Hadist
A. Hadist I
            Dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW menegaskan kepada kita semua bahwa berdakwah itu memang sangat penting. Tidak hanya dengan satu cara tapi bermacam-macam. Yaitu seperti menegur dengan tangan, ucapan dan hati. Sementara itu dikatakan pula bahwa berdakwah dengan hati adalah jenis dari orang yang beriman lemah. Dari kelanjutan tersebut lagi-lagi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tindakan mendiamkan atau memberi tindakan pada kemungkaran dengan mendo’akan dalam hati termasuk kurang baik. Kita harus bergerak, kita tidak boleh mendiamkan hal yang tidak baik begitu saja, kita harus berdakwah.
B. Hadist II
Dari hadits ini kita bisa kembali mengambil pelajaran bahwa jika kita menemukan kemungkaran kemudian kita tahu dan tidak meemperingatinya maka kita akan mendapatkan balasan. Seperti yang dikatakan dalam hadits diatas memang tidak jelas siksa apa yang akan kita dapatkan, tetapi adakah siksa Allah yang mudah? Sedangkan dikatakan bahwa siksa Allah yang paling ringan adalah panas yang ditaruh di telapak kaki dan panasnya bisa membuat otak mendidih. Naudzubillah…
Lagi, jika kita berdoa Allah tidak akan mengabulkan. Jika demikian kepada siapakah kita akan meminta pertolongan? Kepada siapa kita akan meminta selain Dia?
Begitulah yang dijelaskan nabi Muhammad SAW tentang balasan bagi manusia yang lalai terhadap kewajiban berdakwah. Ternyata Allah memang sangat memperhatikan pentingnya dakwah ini. sehingga, kita nantinya tidak saling membiarkan saudara kita terjerumus ke dalam jurang tanpa usaha menolongnya.
C. Hadist III dan IV
Berbeda dengan hadits sebelumnya, dari kedua hadits diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang kita dakwahkan atau ajakkan kepada orang lain, seperti apa yang didapat orang itu jika melakukannya seperti itulah yang kita dapatkan. Misalnya kita mengajak berpuasa kemudian orang itu berpuasa maka seperti apa pahala yang didapat orang itu seperti itu pulalah yang kita dapatkan. Subahanallah…betapa pemurahnya Allah membuat amal terasa begitu mudah.
Tapi, begitu pula dengan ajakan buruk yang kita sampaikan. Apabila orang lain melakukannya atas anjuran kita maka kita akan mendapatkan apa yang kita anjurkan itu persis seperti dosa yang didapat sang pelaku.
Padahal jika kita fikirkan lagi, betapa pemurahnya Allah. jika sebuah kebaikan kita niatkan meskipun belum kita laksanakan niatnya telah dicatat sebagai pahala. Tapi niat buruk, kalau kita belum melakukan keburukan yang kita niatkan tersebut kita tidak akan mendapat catatan buruk. Begitu menurut suatu risalah.
2.3    Manusia Sebagai Komunikan
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik.
Pada kajian komunikan ini ada dua sudut pandangan untuk menjelaskan peran manusia sebagai komunikator yakni dari sudut pandang komunikasi secara umum dan sudut pandang dalam islam.[3]
Dari sudut pandang komunikasi pada umumnya manusia sebagai komunikan ialah manusia sebagai penerima pesan yang baik. Dalam proses komunikasi komunikan merupakan sasaran komunikasi dan tujuan manusia berkomunikasi adalah membangun/menciptakan pemahamam atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan. Dalam kajian ini secara garis besar indtinya adalah manusia sebagai komunikan yang dapat menangkap pesan dengan baik yang di sampaikan oleh manusia lain(komunikator) karna itu manusia adalah komunikator tebaik daripada mahluk yang lain makadari itu objek kajian komunikasi adalah manusia.
Dari sudut pandang islam manusia sebagai komunikan dan sasaran komunikasi dan yang menjadi komunikator adalah Allah yang menyampaikan pesan berupa alquran.
Dalam sudut pandang ini proses komunikasi dari seorang komunikator yag menyampaikan pesan melalui media atau secara langsung kepada komunikan dan menimbulkan sebua efek.
2.4 Hubungan Hadits dengan komunikasi pada umumnya
1.    Pergeseran Nilai-nilai dasar Komunikan, Hadits 1
Pergeseran nilai-nilai komunikan terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan yang buruk/keburukan.
Hadits 1
Pada suatu kisah ada seorang seorang mendengarkan suatu ucapan atau ceramah dari para mubaligh saat dia mendengarkan ceramah atau masih dalam sebuah forum majelis taklim, dia begitu semangat dan sangat antusias dalam mendengarkan ceramah tersebut. Ketika selesai acara pengajian dia berbuat tidak sesuai dengan apa yang dia dengar di majelis taklim tersebut. Sebenarnya didalam hatinya itu paham antara yang baik dan yang buruk, tetapi karena adanya suatu pergeseran nilai terhadap keimanannya, maka dia bersifat munafik, di depan orang-orang yang dia hormati seakan-akan dia berbuat kebaikan dengan mendatangi sebuah majelis taklim, sedangkan disisi lain dia tetap berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, mencuri ataupun perbuatan penyakit hati seperti, mengunjing, dengki, iri ataupun mencela perbuatan orang lain.
Nah, apabila kita bertemu dengan orang semacam ini, hendaknya kita sebagai seorang muslim yang baik harus memberikan teguran berupa perbuatan, agar dia tidak mengulangi perbuatannya, dan apabila kita telah menegurnya namun dia tetap tak bisa mendengarkan perkataan kita dan kita tidak mampu menegurnya lagi maka hendaknya kita menegurnya dalam hati dan berdoa kepada Allah agar dia segera insaf dan segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
2.    Sikap dan Reaksi Komunikan.
Sikap dan reaksi komunikator harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari komunikator.

Hadits 2
Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa kita sebagai umat manusia haruslah berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, atau berbuat kebaikan dan menjahui larangannya. Nah apabila menurut diri kia sendiri kita sudah bisa menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan baik, InsyaAllah kita bisa terhindar dari segala perbuatan dosa, dan apabila kita sudah merasa mampu untuk mencegah orang lain berbuat mungkar atau dengan cara mengingatkannya, maka hal tersebut harus segera diamalkan agar semua orang di sekeliling kita semuanya bisa berbuat baik semuanya.
3.    Metode dan Teknik Perbaikan Komunikan.
Metode dan teknik perbaikan komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
Hadits 3 dan 4
Dalam hadits-hadits diatas disebutkan dijelaskan bahwa, seruan untuk mengajak kebenaran itu sangatlah dianjurkan oleh rasulullah, dengan kita mengajak seseorang berbuat kebaikan itu saja sudah termasuk berbuat baik. Dan perbuatan baik sekecil apapun kata Allah akan dibalas berkali-kali lipat, tergantung apa kita bisa iklas melakukan perbuatan kebaikan tersebut, namun ikhlas itu relatif tergantung orang yang menyikapi hal tersebut.
Namun jika kita mnyeru seseorang dalam hal kebaikan seperti misal kita memperingatkan seseorang untuk shalat, maka dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa pahala yang kita dpatkan dari hal sederhana tersebut adalah sama dengan kita melakukan shalat tersebut tanpa berkurang sedikitpun. Dan alangkah indahnya bila hidup ini kita bisa saling mengingatkan dan saling mengajak dalam hal kebaikan, maka didunia ini pasti nyaman dan tentram.
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
  1. Pergeseran nilai-nilai komunikan terjadi dikarenakan faktor dari komunikan tersebut kurang memahami pesan yang disampaikan kaena tidak memperhatikan atau memang sengaja tak menghiraukan komunikator. Dan juga menyimpan pesan yang baik/kebaikan dan menyebarkan pesan yang buruk/keburukan.
  2. Sikap dan reaksi komunikator harus bisa menjaga hubungan baik dengan komunikator dan komunikan harus mempunyai etika dalam berkomunikasi dan menangapi pesan yang di dapat dari komunikator.
  3. Metode dan teknik perbaikan komunikan adalah perbaikan bagi komunikan yang mempunyai pertanyaaan atau pendapat yang salah dalam penerapan tori komunikasih sehingga komunikator harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban untuk membenarkannya.
  1. Juga mengganti sesuatu yang tidak benar menjadi benar dan meluruskan kesalahan dalam pendapat ataupun pesan.









DAFTAR PUSTAKA
Ali Mahrus. H, Terjemah Irsyadul Ibad ( Surabaya : MUTIARA ILMU. 1995 M )
Safinaturrohmah.wordpress.com/materi-perkuliahan/tafsir-tematik-komunikasi/manusia-sebagai-komunikan/
Hasan. A, terjemah bulughul maram, diponegoro, bandung, 2002


[1] Ali Mahrus. H, Terjemah Irsyadul Ibad, Surabaya : Mutiara Ilmu. 1995, Hal. 278
[2] Hasan. A, terjemah bulughul maram, diponegoro, bandung, 2002, Hal. 307
[3] Safinaturrohmah.wordpress.com/materi-perkuliahan/tafsir-tematik-komunikasi/manusia-sebagai-komunikan/

0 komentar :

Posting Komentar