Pages

Rabu, 08 April 2015

MBAK SEMOK PASAR BURUNG



MBAK SEMOK PASAR BURUNG

Hari Jum’at tanggal 3 April 2015, pagi itu sekitar pukul 07.45 saya dan teman saya, Busyro Sya’bani pergi ke lamongan kota untuk mencari dana sumbangan buat acara isro’ mi’roj di Dusun Pelok, Desa Pendowolimo, Kecamatan Karang Binangun, Kabupaten Lamongan. Saya pergi dari koperasi Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik. Koperasi dengan cat warna putih luarnya dan warna hijau dalamnya, dengan luas kira-kira 6x8 M, menjadi tempat pemberangkatan saya dan mas Busyro. Sepeda Supra X 125R warna hitam selalu menemaniku waktu itu untuk mengemis ke kota lamongan, dengan kecepatan rata-rata 40-60 KM mas Busyro yang nyopir. Kita menikmati pemandangan alam yang sangat segar dan kaya akan hasil panennya, saya berbincang-bincang sama mpok.”mpok engko atek mari golek dana ayo nang pasar burung yo, aku polae penasaran mpok,” ungkapku dengan rasa penasaran. “oh....iyo kul engko tak jak tenang ae,” ungkap mas Busyro.
Ketika tiba ditujuan pertama yaitu di kantor Bank Daerah Lamongan, bank tempatnya sebelah kiri jalan raya, dengan gedung warna abu-abu kira-kira 5 lantai itu ternyata tutup.
“ndoh mpok tutup kantore,” Ungkapku sambil terkejut.
“ndoh iyo kul, iki kan tanggal abang kul, kok gak kepikiran mau aku,” Ungkap mpok.
“iyo mpok, alamat tutup kabeh kantor-kantor wong tanggal abang,” Tutur aku.
Akhirnya, kamipun mengecek kantor-kantor yang lain barang kali ada yang buka dan bisa dimasukin proposal kegiatan, saya sisiri setiap kanan kirinya jalan raya, dan ketika nyampek di Rumah Sakit Nashrul Ummah, saya berhenti  dan mas Busyro tanya kepada pak Satpam.
“pak....atek melebetaken proposal niku kesa pundi,” Ungkap mas Bus dengan bahasa ala pesantrennya.
“oh......ma’af mas, inikan tanggal merah jadi pegawainya libur semua, tapi barang kali pean titipin kepada saya juga tidak apa-apa, nanti saya sampaikan kepihak yang berwenang, tapi pean kasih nomor HP pean mas biar nanti di hubungi,” Ungkap pak Satpam.
“oh...injih pak, kulo titipaken jenengan mawon nek ngoten, benjang tak meriki maleh,” Ungkap cak mpok.
Setelah dari RS NU. Dikarenakan tanggal merah kami melanjutkan perjalanan ke kantor-kantor yang menjadi tujuan utama kami untuk mengemis, guna menunjukkan mas Busyro biar mengetahui tempat dan jalannya. Setelah selesai semua, jarum jam menunjukkan pukul 09.30, saya mengajak mas Buyro ngopi ke pasar burung.”ayo mpok ngopi nang pasar burung ae,” Ungkapku.”oye kul ayo...,”kata mpok. Pasar yang terkenal dengan sebutan warung wedokannya menjadi tempat nongkrong saya kali ini. Pasar yang terletak di kiri jalan dari alun-alun Kota Lamongan kira-kira 1 KM itu sangat ramai dengan berbagai jenis burung. Kamipun masuk dan mencari tempat yang asyik dan nyaman dengan cewek yang cantik pula.”mpok golek gon seng enak mbek cewexe seng ayu pisan,” Tutur aku sambil tertawa.
Warung dengan cat biru, pojok kiri barat dari pintu masuk itu menjadi tempat peristirahatan saya kali ini untuk ngopi. Wanitanya juga lumayan cantik kira-kira masih berumur 20 tahun seangkatan dengan saya. Rasa penasaran saya semakin tinggi, setelah memesan White Coffe, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak cantik itu.
“mbak udah lama ta jaga diwarung ini?” Tanya aku
“udah mas.” Jawab mbak seksi.
“udah berapa tahun emangnya mbak?” Tanya aku.
“lima tahun mas.” Jawab mbak itu dengan nada cuek.
“walah mbak kok lama banget ya, dang bayaran tiap bulannya berapa mbak?”
“satu juta setengah mas.” Jawab mbak yang tidak mau nyebutin namanya.
“lumayan banyak mbak, dang asli dari mana mbak?”
“dari bojonegoro mas.”
“lho mbak kok jauh, disini ngontrak atau kost?”
“dikontrakkan mas.”
“oh....enak ya mbak berarti, dang berapa bulan sekali pulang mbak?”
“2 tahun sekali mas”
“ndoh kok lama banget mbak pulangnya?” Tanya aku dengan rasa sangat heran.
“iya mas.” Jawab mbak semok.
Dirasa cukup dan tidak saya lanjutkan mengintrogasi lagi, karena saya takut dan pikiran sudah mulai kemana-mana karena tidak tega melihat nasib malang mbak semok itu, akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja. Meskipun dibenak saya berkata “ya Allah, aku pengen dakwah nang panggonan seng bejat-bejat menungsoe, karena dia lebih membutuhkan daripada kita, paringi dalane lan kekuatan ben saget nuntun”.
Karya :Handika Rahmatullah

1 komentar :

Unknown mengatakan...

kok gak njemok blazzz rek... hahahaha

Posting Komentar