SUBHANALLAH 150 KALI
Siang itu tepatnya pukul 12.00, saya bangun tidur pada salah satu
kamar yang ada di pondok pesantren darul arqom. Kamar yang lebarnya kira-kira
3x4 meter itu dengan cat warna putih sebelah kanan pintu masuk pondok. Karena
waktu sudah menunjukkan pukul 21.05, saya bergegas ambil wudhu di kamar mandi
sebelah selatan pondok. Setelah itu saya menunaikan sholat dhuhur berjamaah
dengan teman saya, bukhori dan heri di dalam kamar.
Kemudian ba’da sholat dhuhur, saya membangunkan teman saya si rambut
gondrong untuk segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuhur. “Ayo
syam......dang tangi wes jam 12.15 lho...dang sembahyang,” ungkap saya. Setelah
si rambut gondrong selesai sholat dhuhur, kita berpakaian rapi dan siap
berangkat ke kampus dengan mengendarai HONDA Supra X 125R yang berwarna hitam
dengan saya sopiri sendiri.
Sesampai dikampus, saya melihat jam pada ponsel saya sudah
menunjukkan pukul 12.30. “Waduh telat suwe iki, kiro-kiro oleh mlebu ta gak
yo?,” ungkap hati kecilku. Saya berjalan menuju kelas dengan tergesa-gesa.
Sesampai di depan kelas di lantai 2, dari tangga masuk ke kanan, ruang nomor
dua dari pojok tepatnya di ruang D1.211. saya mengetuk pintu dengan mengucapkan
salam. “Assalamualaikum....” sambil membuka pintu. Seketika bapak dosen
menyuruh saya dan teman saya untuk sujud syukur.”Ayo sujud syukur dengan
membaca Subhanallah 150X” kata pak prof dengan nada yang agak tinggi. Tanpa
berpikir panjang saya langsung bersujud di lantai, entah lantai itu suci atau
tidak dengan memakai sepatu. Baru pertama kali ini saya bersujud dengan memakai
sepatu dan tanpa di duga-duga.”Waduh kenek hukuman rek....gak bejoku dino iki,
sek tas mlebu kelas langsung di kongkon sujud,” ungkapku dengan perasaan grogi
dan malu.
Setelah selesai sujud, saya duduk di bangku sebelah kiri baris ke 3
dari depan, nomor 2 dari kiri dinding. Saya mendengarkan bapak yang berjenggot
putih menyampaikan mata kuliah Teknik Khitobah 2, dengan antusias. Bapak yang
khas dengan kacamata putih itu, menjelaskan mengapa menyuruh untuk sujud
syukur?.”Anda semua ini masih beruntung, karena saya tidak marah dan hanya saya
suruh sujud syukur saja,” ujarnya.
Ketika bapak dengan kostum keren itu menyuruh teman-teman untuk
menulis sebuah artikel tentang kejadian di siang ini, pak prof meminta saya
untuk berbicara “Ayo handika berbicara tentang kejadian siang ini?,” ujar pak
jenggot putih itu. Sayapun bingung apa yang harus saya ucapkan.”Aduh ngomong
opo iki, kok bingung kabeh aku,” ungkapku dalam hati dengan perasaan
benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus saya ucapkan, si prof juga menatapku dengan tatapan yang
menakutkan.
Akhirnya bapak yang beruban itu menyuruh teman-teman menulis apa
yang terjadi di siang ini.”Ayo....pokoe nulis, jangan ada coretan pokoknya
nulis lurus saja,” kata pak prof. Dengan motivasi yang beliau berikan, akhirnya
saya menulis apa adanya. Semua yang ada di pikiran saya tuangkan diatas kertas
putih. Akhirnya saya menulis dengan pelan-pelan. Sesekali bapak dengan 7 anak
itu berdiri disamping kiri bangku dengan melihat saya yang sedang menulis. Saya
grogi dan tidak pede karena beliau melihat tulisan saya dan sayapun tidak
berani melihatnya, karena takut salah dengan apa yang saya tulis.”Pak prof kok
gak mere-mere yo....sungkan ngeniki, tulisanku disawangi terus,” ungkap
perasaanku.
Karya :Handika Rahmatullah
Categories :
Unknown
7 komentar :
subhanallahe mbten kirang katah ta mas??hehehehe
ancene gak bejoe kene mas...hehehe
alhamdulillah kita pasti ikhlas melakukannya
penuh makna :)
tapi ikhlas kan melakukan hukumannya ,,
duduk manis sambil mengejah kata-kata diatas
Hukuman yang bermanfaat dan mendidik...
Posting Komentar